Senin, 30 Januari 2023

Kadin Jatim: Sudah Saatnya Kedelai Lokal Jadi Substitusi Kedelai Impor

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Edi Purwanto, Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian dan Pangan Kadin Jawa Timur (kiri), bersama Kordinator PPL, perwakilan Gapoktan, para petani, dalam Pertemuan Sharing potensi dan problematika kedelai Di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Foto: Kadin Jatim

Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur memiliki keyakinan besar jika kedelai lokal bisa bersaing dan menggantikan kedelai impor. Keyakinan tersebut dengan melihat potensi kedelai dalam negeri yang sudah berkembang.

“Prinsipnya, kedelai Indonesia itu bisa bersaing dan berkompetisi dengan kedelai impor. Sudah saatnya kita beralih ke kedelai lokal agar ketergantungan terhadap kedelai impor bisa diatasi,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima suarasurabaya.net di Surabaya, Senin (31/10/2022).

Hal ini dikuatkan oleh Edi Purwanto Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian dan Pangan Kadin Jawa Timur, bahwa perusahaan swasta PT Tarutama Nusantara (TTN) Jawa Timur, sudah berhasil mengembangkan varietas kedelai yang produktivitasnya cukup tinggi sekitar 3,2 ton per hektare, menyamai produktivitas kedelai di luar negeri

“Dari sisi kualitas biji, mulai dari besarnya biji hingga kandungan pati itu sama dengan kedelai impor, bahkan warnanya lebih bagus kedelai dari TTN yang ada di Jember dibanding kedelai impor,” paparnya.

Gatot Ketua Gapoktan Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember (kiri), dan Edi Purwanto, Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian dan Pangan Kadin Jawa Timur, saat meninjau tahapan panen kedelai mulai potong tanaman siap panen sampai didapatkan biji kedelai. Di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Foto: Kadin Jatim

Selain adanya varietas kedelai unggul, area tanam kedelai di Indonesia sebenarnya sangat luas. Ini didukung oleh kebiasaan pola tanam para petani. Dimulai dari padi, kemudian padi lagi, dan pada saat musim panen ketiga (kemarau) baru ditanami kedelai. Atau pola tanam padi, jagung, kemudian baru kedelai.

Jadi dari sisi kebiasaan pola tanam, petani Indonesia sebenarnya sudah biasa menanam kedelai. Terlebih banyak juga petani yang sudah terbiasa dengan pola tumpangsari atau pola tanam ‘methuk’, contohnya petani di Jawa Tengah.

Kemudian di sisi subsidi, Edi mengatakan subsidi bagi petani harusnya diganti dengan subsidi hilir dikarenakan walaupun ada subsidi hulu di sektor pupuk, ternyata petani masih saja sulit mendapatkan pupuk. Kalaupun dapat, tetap dengan harga yang tinggi.

“Oleh karena itu subsidi harusnya di hilir. Misal subsidi harga jual, dari harga Rp 4.000 per kilogram, diberi subdisi Rp 2.000 per kilogram. Sehingga konsumen tetap dapat merasakan harga kedelai rendah Rp 2000 per kilogram sedangkan petani tetap mendapatkan harga yang sebanding dengan biaya produksinya,” ungkap Edi.

Kadin juga berharap ada support pasar atau market bagi petani kedelai. Karena selama ini pedagang dan pengguna kedelai seperti pengrajin tempe dan tahu, mengasumsikan kedelai impor lebih baik dari lokal.

“Pemerintah harus intervensi dalam rantai tata niaganya. Dibuatkan saluran pemasaran dan subsidi harga,” pungkasnya.

Sebagai informasi untuk diketahui, Adik mengatakan bahwa Indonesia telah lama terbuai dengan keberadaan kedelai impor, karena program swasembada kedelai yang didengung-dengungkan pemerintah ternyata tidak membuahkan hasil. Bahkan produksi kedelai lokal semakin turun sehingga ketergantungan terhadap kedelai impor menjadi semakin besar hingga mencapai 90 persen.

Pada tahun 2020 produksi kedelai Jatim tercatat hanya 57.235 ton per tahun. Sementara tingkat konsumsinya mencapai 447.912 ton per tahun sehingga defisit atau kekurangan sebesar 390.677 ton per tahun.

“Padahal kita punya potensi untuk bisa keluar dari kondisi ini. Tinggal keinginan pemerintah atas tercapainya swasembada kedelai ini apa memang benar atau kah hanya sebatas di atas kertas,” tegas Adik.(rum/ipg)

Berita Terkait