Minggu, 22 Mei 2022

Kemendag Lepas Ekspor Sorgum Produk Unggulan Desa NTB Senilai Rp700 Juta

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Didi Sumedi Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Foto: Humas Kemendag

Kementerian Perdagangan bersama PT Astra International Tbk, Sabtu (22/1/2022) ini melepas ekspor produk unggulan Desa Sejahtera Astra dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sepuluh jenis produk olahan sorgum senilai Rp700 juta diekspor ke Timor Leste dan Malaysia, dari Dusun Lokok Sutrang, Desa Santong Mulia, Lombok Utara, NTB.

Didi Sumedi Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan mengatakan, pelepasan ekspor dilakukan bersamaan dengan panen raya sorgum.

“Produk-produk yang diekspor kali ini diproduksi CV. Yant Sorghum yang membina petani sorgum di Desa Sejahtera Astra (DSA) Lombok, NTB. Kesepuluh produk olahan sorgum yang dilepas ekspornya adalah keripik tempe sorgum, roll sorgum, puff sorgum, keciput sorgum, stik bawang sorgum, beras sorgum, tepung sorgum, biskuit sorgum, gula cair sorgum kemasan botol dan saset, serta sendok dan garpu berbahan sorgum yang bisa dimakan (edible sorghum spoon and fork),” ujarnya.

Didi berharap, Desa Binaan Astra mampu mencetak eksportir yang bisa mengekspor produk-produk unggulan secara berkesinambungan.

“Kegiatan hari ini merupakan salah satu implementasi kerja sama pengembangan ekspor Produk Unggulan Desa dengan PT. Astra International Tbk yang bertujuan meningkatkan kapasitas ekspor desa ke pasar global, salah satunya adalah produk olahan sorgum. Sejak diformalkan pada 28 Juli 2021, Kemendag dan Astra berkomitmen bahwa dari sekitar 900 desa binaan Astra, minimal 100 desa harus mampu ekspor secara mandiri dan mendapatkan repeat order dalam kurun waktu dua tahun, yaitu pada 2023 mendatang,” paparnya.

Kegiatan pelepasan ekspor itu dihadiri Djohan Sjamsu Bupati Lombok Utara, Ni Made Ayu Marthini Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag, Bima Krida Pamungkas Head of CSR Communication PT. Astra International Tbk, Nur Rahmi Yanti pemilik CV. Yant Sorghum, dan perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT).

Pada kesempatan itu, Ni Made Ayu Marthini Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan menyampaikan komitmen Kemendag untuk mendukung produk-produk bernilai tambah yang inovatif, seperti hasil olahan sorgum.

“Sorgum bisa menjadi sumber pangan alternatif menggantikan gandum, padi, atau jagung, yang dapat dikreasikan menjadi berbagai bentuk makanan dan minuman olahan. Hal yang menarik adalah inovasi sendok dan garpu dari sorgum. Hal ini yang ingin kami dorong promosinya, sekaligus mengedukasi buyers bahwa produk ini sustainable karena bersifat bebas sampah (zero waste). Kami akan berkoordinasi dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri untuk membukakan akses pasar di 46 kota yang menjadi akreditasi dari Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center,” katanya.

Sekadar informasi, sorgum merupakan tanaman bersifat zero waste product. Biji, batang, dan daunnya bisa diolah menjadi sejumlah produk.

Biji sorgum bisa diolah menjadi tepung, pakan ternak, nasi, dan biskuit. Batangnya bisa diolah menjadi gula, pakan sapi, kompos, dan permen. Sedangkan daunnya bisa diolah menjadi kompos, pewarna alami, dan keripik.

Program DSA Sorgum Lombok mampu mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mencoba bangkit dari dampak gempa bumi tahun 2018 dan pandemi Covid-19.

Program yang dimulai lima tahun lalu dengan dua desa binaan, sekarang jumlahnya meningkat menjadi 22 desa dan melibatkan lebih dari seribu petani di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Selatan dengan konsep korporasi petani.

Berkembangnya DSA Sorgum juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, khususnya ibu rumah tangga yang terlibat dalam proses pengolahan menjadi berbagai aneka makanan dan minuman.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor olahan serealia Indonesia selama lima tahun terakhir (2016–2020) tumbuh dengan tren 12,16 persen per tahun. Pada periode Januari–November 2021, nilainya tercatat sebesar USD 4,6 juta atau turun 10,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020.

Pasar ekspor utama olahan serealia Indonesia adalah Korea, Turki, India, Hong Kong, Taiwan, Timor Leste, Malaysia, Australia, Kanada, dan Arab Saudi.(rid/tin/den)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 22 Mei 2022
26o
Kurs