Jumat, 1 Maret 2024

Pengusaha Tahu di Kediri Mulai Kurangi Produksi

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
pengusaha-tahu-di-kediri Pekerja memotong tahu siap jual di gudang pabrik tahu CV Gudange Tahu Takwa (GTT) di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Selasa (15/2/2022). Foto: Antara

Pengusaha tahu di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengurangi produksi menyusul harga kedelai yang semakin mahal serta penerapan PPKM untuk menekan kerugian yang semakin besar.

“Kami kurangi produksi, karena untuk mengurangi kerugian. Kalau di hari normal, sehari bisa 400 kilogram. Sekarang, rata-rata 300 kilogram. Bahkan hari ini 200 kilogram,” kata Gatot Siswanto Pemilik CV Gudange Tahu Takwa (GTT) di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, dikutip Antara, Selasa (15/2/2022).

Dia mengatakan, sebenarnya sudah sejak awal pandemi Covid-19 dia sudah mengurangi produksi. Itu karena sejumlah gerai di sejumlah daerah tutup. Di antaranya di Surabaya, juga di Malang.

Namun, pada November 2021, produksi sudah mulai meningkat menyusul status level PPKM yang turun. Kini, ada kenaikan level PPKM lagi yang membuat usahanya makin sulit.

“Bulan November 2021 itu, ekonomi mulai normal lagi. Lalu ada imbauan dari pemerintah ada penutupan lagi, omzet turun lagi,” kata dia.

Selain karena PPKM, harga kedelai sebagai bahan baku utama produksi tahu belakangan juga semakin mahal. Menurutnya, sejak dua pekan lalu, harga kedelai mencapai Rp11 ribu per kilogram. Bahkan pernah di harga Rp12 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya hanya Rp9.500 rupiah per kilogram.

Kondisi ini membuat UMKM seperti dirinya harus memutar otak agar biaya produksi tidak mengalami kerugian terus. Dia mengaku tidak berani mengurangi kualitas bahan baku, karena itu akan mengurangi kualitas produk. Untuk itu, yang akan dia lakukan dalam waktu dekat ini adalah menaikkan harga.

“Kami tidak berani untuk pengurangan bahan baku, karena akan mengurangi kualitas produksi. Dengan harga kedelai saat ini, tentu saja harga jual produk tahu terpaksa kami naikkan. Semula harga per biji Rp900, sekarang naik jadi Rp1.000,” katanya.

Dia juga mengaku sampai sekarang tetap mempertahankan para pekerja. Walau pun saat ini tidak seramai sebelum pandemi Covid-19, para pekerja juga tetap masuk.

“Untuk tenaga kerja, tidak ada PHK hanya pengurangan jam kerja saja. Untuk di bagian produksi ini ada 25 orang kerja mulai jam tujuh pagi sampai jam tiga sore. Produknya ada banyak, tahu takwa, stik tahu, tahu bulat,” kata dia.

Dia berharap pemerintah mempunyai kebijakan khusus terkait harga kedelai ini. Saat ini, hampir 100 persen perajin tahu seperti dirinya mengandalkan bahan baku kedelai impor.

Karena itulah dia berharap harga kedelai bisa stabil, sehingga UMKM seperti dirinya bisa bertahan dan para pekerja tetap bisa bekerja.

Tutik Purwaningsih Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri mengaku pihaknya terus berkomunikasi intensif dengan pemerintah pusat terkait harga kedelai.

Dia menambahkan, harga kedelai impor di pasaran mahal, sebab impor pun harganya sudah mahal.

“Kami komunikasi terus dengan teman-teman di pusat. Kalau nanti harus berkirim surat, kami siap. Kalau kedelai, karena memang impornya sudah mahal,” kata Tutik.(ant/den/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Jumat, 1 Maret 2024
32o
Kurs