Sabtu, 4 Februari 2023

Perang Rusia-Ukraina Bisa Memicu Kenaikan Harga Produk Olahan Gandum di Indonesia

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Peta Ukraina-Rusia. Foto: Wikipedia

Invasi Militer Rusia ke wilayah Negara Ukraina berpotensi mengganggu stabilitas global di berbagai sektor, seperti ekonomi, finansial, pangan dan energi.

Karena, di sektor pangan, Rusia dan Ukraina termasuk negara penghasil gandum terbesar di dunia. Banyak negara yang mendapat pasokan gandum untuk berbagai macam produk olahan dari kedua negara Eropa Timur tersebut.

Adhi Lukman Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) mengatakan, sebagian besar produk makanan olahan gandum di Indonesia seperti mie, tepung terigu, roti dan kue, impor dari Ukraina.

Sedangkan, ongkos energi sepenuhnya ditentukan pasokan Rusia.

Mengutip data CNBC, Rabu (2/3/2022), harga minyak jenis brent US$ 110,04/barel, naik 4,83 persen dari sebelumnya, dan itu menjadi kenaikan tertinggi dari Juni 2014.

Sementara, harga gandum di pasar Chicago Board of Trade Amerika Serikat di atas US$ 10,05/bushel. Harga itu rekor tertinggi sejak Maret 2008.

Menurut Adhi, kalau perang Rusia-Ukraina cepat selesai, kemungkinan tidak berdampak signifikan dan harga gandum berangsung kembali seperti sebelum terjadi perang walau pun pasar sudah bergejolak karena efek psikologis.

“Tapi, kalau perang berkepanjangan, imbasnya akan besar terhadap pasokan gandum di Indonesia,” ujarnya kepada Suara Surabaya, Kamis (3/3/2022).

Maka dari itu, Adhi bilang Indonesia harus mencari alternatif negara pemasok gandum seperti yang juga dilakukan negara lain di dunia.

Berdasarkan data yang dipegangnya, tahun 2021, pemasok gandum terbesar untuk Indonesia adalah Australia (40,9 persen), lalu Ukraina (26,8 persen), Kanada (16,7 persen) dan sisanya dari negara lain.

Adhi memperkirakan, stok gandum yang ada di Indonesia sekarang cukup untuk kebutuhan selama satu sampai dua bulan ke depan.

Sementara itu, Adhi menyebut dampak tidak langsung dari perang Rusia-Ukraina, antara lain harga komoditi substitusi dan harga ongkos energi naik karena sumber pangan dan energi sulit dipisahkan.

Lalu, global value chain akan terganggu, dan kenaikan harga jual produk pangan olahan ikut melonjak sehingga menyebabkan inflasi.

Dia mengungkapkan, sekarang para pengusaha masih mempertimbangkan rencana menaikkan harga pangan olahan gandum gara-gara terhambatnya pasokan impor.

“Sementara ini pengusaha masih wait and see, dan tetap berharap perang segera berakhir sehingga tidak berdampak besar. Tapi, bila terpaksa, maka kenaikan harga jual tidak bisa dihindari. Itu jalan terakhir,” tegasnya.

Lebih lanjut, Adhi menyampaikan opsi substitusi gandum dengan komoditi lain. Tapi, untuk mewujudkan itu sifatnya jangka panjang, perlu dukungan di hulu, serta inovasi dari penelitian dan pengembangan.(rid/bil/ipg)

Berita Terkait