Jumat, 7 Oktober 2022

Pertumbuhan Ekonomi 2023 Diperkirakan 5,3 Persen dan Inflasi 3,3 Persen

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Joko Widodo Presiden, Selasa (16/8/2022), menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun Anggaran 2023 beserta Nota Keuangannya, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta. Foto: Biro Pers Setpres

Joko Widodo Presiden, siang hari ini, Selasa (16/8/2022), menyampaikan sejumlah asumsi dasar ekonomi makro dalam Pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun Anggaran 2023 beserta Nota Keuangannya pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2022-2023, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.

Di hadapan para anggota dewan, Kepala Negara menyebut tahun depan pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi berada pada angka 5,3 persen.

“Dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian nasional terkini, agenda pembangunan yang akan kita capai, serta potensi risiko dan tantangan yang kita hadapi, maka asumsi dasar ekonomi makro sebagai landasan penyusunan RAPBN 2023 adalah pertumbuhan ekonomi 2023 diperkirakan 5,3 persen,” ujar Presiden.

Jokowi melanjutkan, Pemerintah akan berupaya maksimal menjaga keberlanjutan penguatan ekonomi nasional.

Pemerintah juga akan terus mendorong ekspansi produksi yang konsisten untuk membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya.

Menurutnya, berbagai sumber pertumbuhan baru juga harus segera diwujudkan. Selain itu, pelaksanaan berbagai agenda reformasi struktural terus diakselerasi untuk transformasi perekonomian.

“Investasi harus terus dipacu serta daya saing produk manufaktur nasional di pasar global, harus ditingkatkan,” imbuhnya.

Dengan makin kuatnya sektor swasta sebagai motor pertumbuhan, Jokowi memandang manajemen kebijakan fiskal bisa lebih diarahkan untuk menciptakan keseimbangan antara perbaikan produktivitas dan daya saing dengan menjaga kesehatan dan keberlanjutan fiskal untuk menghadapi risiko dan gejolak di masa depan.

“Bauran kebijakan yang tepat, serta sinergi dan koordinasi yang makin erat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor keuangan akan menjadi modal yang kuat dalam rangka akselerasi pemulihan ekonomi nasional serta penguatan stabilitas sistem keuangan,” imbuhnya.

Sementara itu, angka inflasi tetap dijaga pada kisaran 3,3 persen. Kebijakan APBN, lanjut Presiden, akan tetap diarahkan untuk mengantisipasi tekanan inflasi dari eksternal, terutama inflasi energi dan pangan.

Asumsi inflasi pada level itu juga menggambarkan keberlanjutan pemulihan sisi permintaan, terutama akibat perbaikan daya beli masyarakat.

Rata-rata nilai tukar Rupiah diperkirakan bergerak di sekitar 14.750 Rupiah per Dollar AS, dan rata-rata suku bunga Surat Utang Negara 10 tahun diprediksi pada level 7,85 persen.

Selanjutnya, harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan akan berkisar pada 90 Dollar AS per barel. Di sisi lain, lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 660 ribu barel per hari dan 1,05 juta barel setara minyak per hari.(rid/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Mobil Mogok dan Nutup Sebagian Jalur Layang Mayangkara

Truk Terguling di Raya Kedamean Gresik

Truk Mogok di Mastrip arah Kedurus

Mobil Terbalik di Merr Surabaya

Surabaya
Jumat, 7 Oktober 2022
31o
Kurs