Senin, 22 Juli 2024

Presiden Berharap Produk-produk Dalam Negeri Mendominasi Pasar Digital Indonesia

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Jokowi Presiden memberikan arahan kepada peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan dan alumni Program Pendidikan Reguler Angkatan Tahun 2023 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Rabu (4/10/2023), di Istana Negara, Jakarta. Foto: Biro Pers Setpres

Joko Widodo Presiden menegaskan pentingnya melindungi kedaulatan digital Indonesia dengan cara menjaga aset digital dan terus mempertahankan produk dalam negeri di pasar digital.

Arahan itu disampaikan Presiden kepada peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan dan alumni Program Pendidikan Reguler Angkatan Tahun 2023 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Rabu (4/10/2023), di Istana Negara, Jakarta.

“Kita harus melindungi kedaulatan digital kita dan betul-betul kita pertahankan yang namanya kandungan lokal, barang lokal, kalau enggak bisa 100 persen barang, ya paling tidak 90 persen, 80 persen kandungan lokalnya. Jaga betul yang namanya aset digital kita, jaga betul, data, informasi, akses pasar, semuanya nanti bisa menyangkut politik,” ucap Presiden.

Lebih lanjut, Kepala Negara bilang Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang sangat besar.

Tahun 2020, potensi ekonomi digital Indonesia sebanyak 44 miliar Dollar AS. Lalu, tahun 2022 jumlahnya meningkat menjadi 77 miliar Dollar AS, dan tahun 2025 diperkirakan mencapai 146 miliar Dollar AS.

Kemudian, tahun 2030 potensi ekonomi digital di Indonesia diperkirakan mencapai 360 miliar Dollar AS atau sekitar Rp5 ribu triliun.

Supaya tidak hanya jadi pasar, Presiden mengingatkan seluruh pemangku kepentingan segera menyiapkan talenta-talenta digital yang berkualitas.

Selanjutnya, Jokowi menekankan Indonesia harus menjadi produsen, jangan cuma jadi konsumen produk-produk luar negeri.

Berdasarkan data yang dipegang Presiden, sebanyak 123 juta masyarakat merupakan konsumen pasar digital. Sayangnya, 90 persen yang dibeli adalah barang impor.

“Kalau produk kita sendiri kita taruh di e-commerce masih bagus. Tapi, 90 persen barang impor karena harganya sangat murah. Bahkan, baju kemarin ada yang dijual berapa Rp5 ribu. Artinya di situ ada predatory pricing, sudah mulai bakar uang yang penting menguasai data, menguasai perilaku, ini semua kita harus mengerti mengenai ini,” paparnya.

RI 1 berharap produk yang masuk pasar digital mayoritas buatan dalam negeri. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun mengingatkan jangan sampai Indonesia terkena penjajahan era modern dari sektor ekonomi.

“Syukur kita bisa masuk ekspor ke negara-negara enggak usah jauh-jauh di ASEAN dulu kita kuasai. Jangan sampai kita lena dalam hitungan bulan, enggak mau saya terkena penjajahan era modern. Jangan mau kita terkena juga kolonialisme di era modern ini, kita nggak sadar tahu-tahu kita sudah dijajah secara ekonomi,” tandasnya.(rid/ipg)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Pipa PDAM Bocor, Lalu Lintas di Jalan Wonokromo Macet

Perahu Nelayan Terbakar di Lamongan

Surabaya
Senin, 22 Juli 2024
31o
Kurs