Jumat, 1 Maret 2024

Financial Planner Ingatkan Milenial dan Gen Z Atur Lifestyle Agar Tak Terjebak Fomo hingga Terjerat Pinjol

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi travelling.

Tren gaya hidup atau lifestyle generasi Milenial akhir dengan generasi Z belakangan seringkali disebut tertuju ke leisure spending, atau lebih mengutamakan pengeluaran untuk hal yang sifatnya hiburan (tersier) daripada kebutuhan dasar (primer).

Artinya, generasi tersebut sekarang lebih mengutamakan menghabiskan uang untuk traveling, healing, hingga melihat konser ke luar daerah bahkan luar negeri dengan nominal biaya yang lebih besar ketimbang menabung membeli kendaraan atau rumah.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi leisure spending, diantaranya karena fear of mising out (fomo) atau ikut-ikutan, hingga semata untuk memenuhi kebutuhan konten di media sosial (medsos).

Bukan hanya memakai uang tabungan, perilaku konsumsi tersebut tak jarang membuat mereka rela melakukan pinjaman online (pinjol), hingga akhirnya rawan terjerat. Terbaru, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kalangan usia 19-34 tahun masih mendominasi tingkat kredit macet pinjol, dengan outstanding pinjaman mencapai 715,5 persen.

Dwi Wulandari Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (UNM) membenarkan hal tersebut. Menurutnya, di era digital ini memang terjadi pergeseran perilaku baik generasi milenial maupun Z yang seringkali takut ketinggalan hal-hal tren, kemudian mengalokasikan sebagian besar penghasilan atau tabungannya untuk hal tersebut.

“Jadi ngelihat temennya ke kafe-kafe keren, traveling, (muncul pikiran) masa aku di rumah aja, jadi kayak takut ketinggalan gitu. Nah, akhirnya mereka lebih banyak mengalokasikan untuk sesuatu yang bisa kita bilang lifestyle, tapi juga sebenarnya seringkali tujuannya itu cuma di foto gitu ya, di upload, dapat like (untuk kepentingan media sosial),” ujar Wulan sapaan akrabnya waktu mengudara di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (12/2/2024).

Dosen ekonomi yang juga financial planner itu tak memungkiri ada kerawanan lifestyle tersebut memaksa seseorang untuk mencari segala cara, termasuk melakukan pinjaman online hingga penggunaan kartu kredit secara berlebihan.

“Jadi ngutang tapi tidak ada daya bayar, sedangkan sifat bunga itu kan compounding ya, jadi tambah lama pasti banyak hutangnya, ini yang sering tidak disadari sih. Karenanya, kita harus berusaha mengedukasi dari usia dini banget. Jadi fomo itu jangan sampai membuat kita tidak menabung buat masa depan,” jelasnya.

Untuk itu, dia berpesan kepada generasi milenial dan Z saat ini untuk memegang prinsip live below your means atau mengatur pola hidup dibawah pendapatan.

“Jadi kalau kita ngerasa, kok aku (pengeluaran) besar pasak daripada tiang, berarti kita harus me-review nih, jangan-jangan pengeluaran kita terlalu banyak. Tapi kalau sudah direview pengeluarannya memang harus segitu, yah maka kita harus nambah skill-nya(untuk menambah pemasukan), jadi memang harus begitu,” jelasnya.

Wulan juga mengingatkan, supaya lebih berhati-hati agar tidak terjerat pinjol karena aksesnya yang sangat persyaratannya sangat mudah, yakni foto diri dan KTP saja. Apalagi, lanjutnya, saat ini bunga pinjaman untuk konsumen per hari bisa sampai 0,3 persen, yang artinya sembilan persen per bulan.

“Dan lagi kebanyakan iklan-iklannya (pinjol) ini duit yang bisa bantu kamu, padahal ini berbahaya. Berarti memang edukasinya ditingkatkan, pengawasan orang tua juga, karena selama ini gadget kita berikan tapi edukasinya enggak itu yang cukup berbahaya,”

Sementara terkait mindset generasi milenial dan Z mengurungkan membeli rumah karena harganya yang sekarang kelewat mahal, menurut Wulan harus dirubah. Dia mengatakan milenial akhir dan Z seharusnya mencontoh generasi sebelumnya yang memprioritaskan tabungannya di masa depan, untuk membeli rumah.

Menurutnya  generasi sekarang kebanyakan lebih memilih opsi sewa rumah dan apartemen karena harga yang lebih murah, sehingga dinilai seringkali tidak berusaha mengumpulkan dana untuk membeli rumah sendiri.

Jika memang pendapatannya untuk menabung dirasa masih kurang, dia menyarakan generasi milenial dan Z betul-betul memanfaatkan perkembangan digital untuk menambah income atau pemasukan.

“Era digital itu kalau kita pintar memanfaatkan, tidak cuma buat scrolling status orang gitu ya, sebenarnya bisa jadi duit. Yang se-simple misalnya jadi afiliate (berafiliasi membantu pemasaran atau bisnis–red) aja itu juga dapetnya lumayan. Tidak ambil banyak waktu juga. Cuma terkadang kita dibatasi sama mindset gaji UMR ya, bertahan disini aja,” bebernya. (bil/ham)

Berita Terkait

Terlalu Sering Main Medsos, Hati-Hati FOMO!

Orang Tua Berperan Atasi FOMO Negatif Anak


Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Jumat, 1 Maret 2024
28o
Kurs