Rabu, 24 Juli 2024

SHU Regional Indonesia Timur Catat Kinerja Positif pada Kuartal I 2024

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Muhamad Arifin Direktur Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina saat pemaparan, Senin (3/6/2024). Foto: Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina

Subholding Upstream (SHU) Regional Indonesia Timur Pertamina mencatat kinerja produksi minyak dan gas selama kuartal 1 2024 hampir menyentuh angka 2023.

Muhamad Arifin Direktur Regional Indonesia Timur menyebut, produksi minyak 82,582 barel minyak per hari (BOPD) dan gas 622,441 juta standar kaki kubik per hari (MSCFD).

Ada tiga strategi eksplorasi dan produksi yang diterapkan, yaitu mendukung ketersediaan energi dengan mencapai target produksi yang ditetapkan, mendukung transisi energi menuju energi bersih, dan melakukan inovasi dari bisnis baru.

“Operasi industri migas saat ini menghadapi tantangan yang semakin ketat, baik dari kondisi geopolitik, investasi dan peraturan lingkungan yang semakin ketat. Regional Indonesia Timur juga menghadapi keunikan lain berupa kondisi geografis yang luas dan terpecah ke beberapa pulau dengan karakteristik stakeholder yang beranekaragam. Tantangan ini kami ubah menjadi peluang dengan menerapkan tiga strategi ini, dengan demikian kami percaya akan mendapatkan hasil terbaik untuk memenuhi tugas kami sebagai pendukung ketersediaan energi nasional,” ujar Arifin.

Penerapan itu bagian dari menyusul capaian Regional Indonesia Timur sepanjang tahun 2023.

Caratan poduksi minyak 89, 255 BOPD, dan produksi gas 606,2 MMSCFD, serta pengeboran tiga sumur development, pengeboran lima sumur eksplorasi, cadangan P1 sebesar 83,64 juta barel setara minyak (MMBOE).

Strategi memenuhi target produksi, lanjutnya, melakukan optimasi lapangan brownfield dan menggenjot produksi melalui sumur development dan workover. Selain itu, memiliki peluang dari lapangan baru.

“Jadi kalau berbicara sustainability, bisnis di Regional Indonesia Timur ini bagus karena berkesinambungan,” tambah Arifin.

Selanjutnya, mendukung transisi energi sebelum nantinya energi bersih bisa menjadi supplier utama pemenuhan kebutuhan energi.

Dalam fase transisi energi, natural gas berperan penting karena keberadaannya dipandang sebagai energi fosil paling bersih.

“Cocok dengan lapangan di Regional Indonesia Timur yang banyak menghasilkan gas, terutama untuk lapangan yang berada di kawasan timur seperti Sulawesi dan Papua” ujar Arifin.

Strategi ini, sambung Arifin termasuk upaya komersialisasi gas dari lapangan marginal dan stranded gas dari beberapa sumur yang dulunya tidak termanfaat dengan maksimal.

Pemanfaatan stranded gas ini dilakukan untuk menopang keekonomian lapangan, dikembangkan menjadi Compressed Natural Gas (CNG) untuk memasok industri kecil di Jawa Timur seperti rumah makan atau pabrik berskala kecil menengah.

Strategi terakhir yaitu mulai melakukan inovasi dari new business dan memperkuat faktor pendukung. Implementasinya, melakukan cost optimization dan operational excellence, transformasi sistem dan digitalisasi, melakukan sinergi dengan entitas Pertamina lainnya di luar Regional Indonesia Timur, dan komersialisasi produk. (lta/saf/ipg)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Pipa PDAM Bocor, Lalu Lintas di Jalan Wonokromo Macet

Perahu Nelayan Terbakar di Lamongan

Surabaya
Rabu, 24 Juli 2024
29o
Kurs