Sabtu, 10 Januari 2026

Airlangga Menko Ekonomi Sebut Defisit 2,92 Persen APBN Tak Ganggu Investor

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Airlangga Hartarto Menko Perekonomian menyampaikan keterangan pers, Kamis (27/11/2025), di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. Foto: Biro Pers Setpres

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian menilai realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) tidak berdampak negatif terhadap kepercayaan investor.

Menurut Menko Ekonomi itu, posisi defisit APBN masih tergolong aman karena berada di bawah batas maksimal 3 persen yang ditetapkan undang-undang.

“Tentu enggak ada masalah. Kan tahun kemarin udah ditutup dan defisitnya masih aman. Masih di bawah 3 persen,” ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Jumat (9/1/2026) melansir Antara.

Berdasarkan data realisasi sementara per 31 Desember 2025, defisit APBN tercatat mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen dari PDB.

Angka ini melebar dibandingkan target awal APBN 2025 sebesar 2,53 persen maupun proyeksi laporan semester sebesar 2,78 persen, dan mendekati ambang batas defisit 3 persen.

Menanggapi pelebaran defisit tersebut, Airlangga menilai kondisi itu masih wajar karena capaian penerimaan negara yang relatif tinggi.

“Ya kan tentu kita lihat juga penerimaan kita kan mendekati 91,7 persen. Jadi itu wajar saja. Yang paling penting kita kejar pertumbuhan. Nah pertumbuhan kan kaitannya direct terhadap employment, penciptaan lapangan kerja. Jadi itu yang kita dorong,” jelasnya.

Dia optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 akan menjadi yang tertinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.

“Kita lihat, tetapi pertumbuhan di kuartal IV itu di antara kuartal-kuartal sebelumnya tumbuh bisa menjadi yang tertinggi. Sehingga mungkin secara keseluruhan target daripada APBN untuk pertumbuhan bisa mendekati,” kata Menko.

Adapun dari sisi pendapatan, realisasi sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target APBN 2025 sebesar Rp3.005,1 triliun. Penerimaan perpajakan mencapai Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari target Rp2.490,9 triliun.

Rincian penerimaan perpajakan terdiri atas penerimaan pajak sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target, serta penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp300,3 triliun atau 99,6 persen dari target.

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp534,1 triliun atau 104 persen dari target, dan penerimaan hibah tercatat Rp4,3 triliun atau 733,3 persen dari target.

Dari sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari target APBN. Belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari target, dengan belanja kementerian/lembaga terealisasi Rp1.500,4 triliun dan belanja non-K/L sebesar Rp1.102 triliun.

Kemudian penyaluran transfer ke daerah (TKD) tercatat sebesar Rp849 triliun atau 92,3 persen dari target. Realisasi keseimbangan primer juga mencetak defisit Rp180,7 triliun, lebih lebar dari target awal Rp63,3 triliun.

Pembiayaan anggaran tercatat mencapai Rp744 triliun, dengan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp48,9 triliun.(ant/wld/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Sabtu, 10 Januari 2026
25o
Kurs