Selasa, 10 Maret 2026

AS Bakal Cabut Sanksi Negara Penghasil Minyak Demi Jaga Harga Tetap Stabil

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Donald Trump Presiden AS. Foto: Aljazeera

Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) mengatakan, pemerintahannya akan mencabut beberapa sanksi terhadap negara-negara penghasil minyak untuk menjaga harga energi tetap stabil di tengah ketegangan AS-Israel terhadap Iran.

Pernyataan itu ia sampaikan pada Senin (9/3/2026), setelah 24 jam yang penuh gejolak, di mana harga minyak mentah melonjak hingga hampir 120 dolar AS (Rp2.027.177) per barel sebelum turun di bawah 90 dolar AS (Rp1.520.640) per barel.

“Jadi, kami memberlakukan sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi tersebut sampai situasi ini membaik,” kata Trump, seperti dilansir Aljazeera, Selasa (10/3/2026).

Trump tidak menyebutkan negara mana saja yang akan dikenai pencabutan sanksi. Namun untuk diketahui, saat ini Washington masih memberlakukan sanksi terhadap sektor minyak Rusia, Iran, dan Venezuela.

“Lalu, siapa tahu, mungkin kita tidak perlu memakainya (sanksi dalam jangka panjang), dengan begitu akan ada begitu banyak kedamaian,” lanjutnya.

Sebelumnya pada hari Senin, Trump sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi terhadap Rusia sebagai bagian dari rencananya untuk menjaga harga minyak tetap rendah.

Sementara Scott Bessent Menteri Keuangan AS pada Jumat (6/3/2026) mengumumkan, bahwa penangguhan sanksi selama 30 hari terhadap penjualan minyak Rusia ke India di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya tekanan pada pasokan global.

Harga minyak mentah terus menurun setelah komentar Trump, dengan harga minyak mentah Brent berada di sekitar 84 dolar AS (Rp1.419.180) per barel pada Selasa, pukul 02.00 dini hari waktu setempat.

Sebagai informasi, pasar energi global berada dalam ketegangan sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, dengan harga minyak mentah melonjak hingga 50 persen dibandingkan sebelum konflik.

Ancaman Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak global, memaksa produsen utama di kawasan Teluk untuk mengurangi produksi di tengah penumpukan pasokan, karena pengiriman sebagian besar telah terhenti.

Selain itu, pasokan energi global juga terancam oleh serangan Israel terhadap fasilitas minyak Iran dan serangan pesawat tak berawak, yang secara luas dituduhkan kepada Iran, terhadap infrastruktur minyak dan gas di negara-negara sekutu AS di kawasan tersebut, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait.(ily/lta/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 10 Maret 2026
34o
Kurs