Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (5/10/2026) melemah jadi Rp17.903 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.882 per dolar AS.
Rully Nova Analis Bank Woori Saudara (BWS) mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Di antaranya kenaikan harga minyak, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), hingga penguatan indeks dolar AS.
“Harga minyak tembus 102 dolar AS per barel, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 5,26 persen, indeks dolar naik menjadi 101,9 yang disebabkan oleh eskalasi konflik Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut,” kata Rully seperti dikutip Antara.
Mengutip Sputnik, sebelumnya gerakan Ansarullah Yaman mengklaim telah menyerang kilang minyak Aramco di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak. Ansarullah menyebut serangan tersebut mengenai sasaran dan menimbulkan kebakaran.
Rully mengatakan, pelaku pasar juga mencermati rilis notulen rapat Federal Reserve atau The Fed, yang pada pertemuan terakhir Federal Open Market Committee telah menaikkan suku bunga 25 basis points atau bps.

NOW ON AIR SSFM 100

