Badan Pangan Nasional (Bapanas) tengah mengkaji kemungkinan penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) MinyaKita menyusul kenaikan harga crude palm oil (CPO) di pasar global.
Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan melindungi daya beli masyarakat.
“Ini masih dalam kajian, masih dalam kajian,” ujar Sarwo Edhy Sekretaris Utama Bapanas dilansir dari Antara pada Selasa (3/3/2026).
Kajian dilakukan setelah harga CPO saat ini melebihi dasar penetapan harga MinyaKita di tingkat konsumen, yakni Rp15.700 per liter.
Sarwo menjelaskan, faktor utama yang diperhatikan adalah pergerakan harga global CPO serta kondisi produksi nasional sebagai produsen terbesar dunia.
Dalam kerangka kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), 35 persen alokasi MinyaKita diserahkan kepada Perum Bulog untuk didistribusikan ke pengecer, khususnya di pasar tradisional, sehingga harga tetap stabil di kisaran Rp15.700 per liter.
Berdasarkan pemantauan Bapanas, di wilayah yang mendapat pasokan Bulog, harga MinyaKita relatif merata sesuai ketentuan HET. Namun, di luar jaringan distribusi Bulog, masih ditemukan harga berkisar Rp17.000–Rp18.000 per liter, meski jumlahnya tidak signifikan.
Bapanas menegaskan bahwa realisasi penyaluran DMO terus dipantau agar distribusi semakin merata dan tidak menimbulkan disparitas harga yang besar.
Terkait rencana penyesuaian HET, Bapanas berencana melibatkan pelaku usaha minyak goreng dalam pembahasan lanjutan. Hingga kini, pemerintah belum memanggil produsen karena masih melakukan evaluasi kondisi lapangan agar kebijakan yang diambil tidak memberatkan masyarakat.
“Belum ada pemanggilan bagi produsen. Ini baru wacana. Kita lihat dulu di lapangan. Jangan sampai kita menaikkan tapi akan memberatkan masyarakat. Jadi masih dalam kajian, ya, baru rencana,” jelas Sarwo. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
