Sabtu, 20 Juni 2026

BI Jatim Prediksi Penjualan Ritel Naik pada Juli 2026, Ditopang Tahun Ajaran Baru

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi - Pengunjung membanjiri salah satu toko seragam baju sekolah yang terletak di Jalan Pandegiling, Surabaya pada Selasa (9/7/2024). Foto: Shava suarasurabaya.net

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur memprediksi kinerja penjualan eceran di Jawa Timur akan meningkat pada bulan Juli 2026 karena ditopang momentum tahun ajaran baru.

BI Jatim juga memproyeksikan kinerja ritel naik pada bulan Oktober 2026 seiring dengan penyelenggaraan Pekan Raya Jatim (PRJ) di Surabaya.

Ibrahim Direktur Eksekutif Kantor Perwakilan BI Provinsi Jatim mengatakan, optimisme itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang menunjukkan tren peningkatan pada dua periode tersebut.

“Responden memprakirakan kinerja penjualan eceran meningkat pada Juli dan Oktober 2026,” terangnya, Sabtu (20/6/2026).

Ia menjelaskan, IEP Juli 2026 diproyeksikan naik menjadi 174,1 dari sebelumnya 164,2. Kenaikan itu terutama didorong oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat memasuki tahun ajaran baru, termasuk untuk perlengkapan sekolah dan kebutuhan penunjang lainnya.

“Peningkatan pada Juli didorong oleh masuknya periode tahun ajaran baru,” ujarnya.

Sementara itu, IEP Oktober 2026 juga diprakirakan meningkat menjadi 135,8 dari 134,6. Ia menjelaskan, kenaikan itu berkaitan dengan penyelenggaraan Pekan Raya Jatim yang rutin mendorong aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat di Surabaya.

Di sisi lain, BI Jatim mencatat kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 masih terjaga. Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 tercatat sebesar 473,4, relatif stabil dibanding April 2026 yang berada di angka 473,3.

Stabilnya kinerja tersebut ditopang oleh permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Kenaikan Isa Almasih, Iduladha, dan Waisak.

“Terjaganya kinerja penjualan eceran pada Mei ditopang periode HBKN,” imbuhnya.

BI Jatim menilai, kinerja sektor ritel masih berpotensi tumbuh seiring terjaganya permintaan domestik. Meski demikian, pihaknya tetap mewaspadai risiko eksternal, terutama kondisi konflik di Timur Tengah yang dapat mendorong kenaikan harga energi dan memengaruhi daya beli masyarakat. (ris/saf/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 20 Juni 2026
31o
Kurs