Senin, 9 Februari 2026

BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Jatim Tahun 2026 di Kisaran 4,7 Sampai 5,7 Persen

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Diskusi upaya menjaga stabilitas ekonomi Jatim di Kantor Bank Indonesia (BI) Jatim, Surabaya, pada Senin (9/1/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur (Jatim) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jatim pada 2026 berada di kisaran 4,7 hingga 5,7 persen.

Ibrahim Kepala KPw BI Jatim mengatakan, proyeksi tersebut masih memiliki potensi kenaikan maupun risiko penurunan, bergantung pada realisasi asumsi ekonomi yang digunakan. Meski demikian, ia menilai bahwa secara umum potensi pertumbuhan ekonomi nasional dan regional masih cukup tinggi.

“Karena memang Jatim porsinya besar sekali dan perananya sangat strategis untuk dukungan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jadi kalau kita lihat di sini, range kisaran pertumbuhan ekonomi tahun 2026 ada di rentang 4,7 sampai dengan 5,7,” kata Ibrahim di Kantor BI Jatim, Surabaya, Senin (9/2/2026).

Menurutnya, perekonomian Indonesia masih menghadapi scarring effect atau dampak lanjutan pandemi Covid-19, di mana pemulihan belum sepenuhnya kembali ke level sebelum pandemi. Kondisi tersebut menyisakan output untuk bisa dioptimalkan agar pertumbuhan ekonomi ke depan lebih tinggi.

“Ada scaring effect, itu istilahnya luka memar yang masih ada sebagai dampak dari pandemi covid. Itulah yang belum proses recovery, belum sepenuhnya kita kembali ke range sebelum pandemi. Sehingga inilah potensial output nasional maupun regional yang harus kita optimalkan sehingga harusnya bisa lebih tinggi,” jelasnya.

Di sisi lain, tantangan ekonomi global dinilai semakin kompleks. Gejolak ekonomi internasional berlangsung lebih cepat, dipicu antara lain oleh kebijakan tarif resiprokal dan fragmentasi ekonomi global, yang memengaruhi stabilitas perdagangan dan sistem multilateralisme.

Meski demikian, ia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang berada di kisaran lima persen masih relatif kuat dibandingkan pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya sekitar 3,3 persen. Tren pertumbuhan ekonomi nasional maupun Jatim menurutnya menunjukkan perbaikan sejak 2023.

Untuk Jawa Timur, pertumbuhan ekonomi tercatat bergerak positif dari 4,95 persen, 4,83 persen, hingga mencapai sekitar 5,33 persen pada 2025. Ia menyebut, catatan itu perlu terus dijaga agar tetap berkelanjutan. “Jadi trennya memang sangat baik di sini, inilah yang perlu kita jaga,” imbuhnya.

BI Jatim menilai, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jatim. Dengan jumlah penduduk Jatim mencapai sekitar 44 juta jiwa, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 60 persen.

Stabilitas harga dan inflasi yang terjaga, disertai berbagai program subsidi dan bantuan sosial pemerintah, menurutnya juga efektif dalam menjaga daya beli masyarakat. Pada 2025, kebijakan seperti pengurangan biaya listrik, dukungan tarif transportasi, serta insentif sektor pariwisata turut mendorong pergerakan ekonomi daerah.

Ke depan, kata dia, Hari Raya Idulfitri yang jatuh pada pertengahan Maret 2026 diperkirakan akan memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang kerap terbagi antara triwulan I dan II.

Selain momentum Ramadan dan Idulfitri, ia mengatakan bahwa sejumlah momentum seperti Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta sentimen penjualan ritel yang masih positif memiliki peran dalam menjaga konsumsi masyarakat. Namun BI Jatim menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat bergantung pada konsumsi rumah tangga semata.

Untuk menjaga momentum di triwulan II hingga IV 2026, diperlukan dorongan dari sisi investasi, iklim usaha, serta penyelenggaraan berbagai event ekonomi dan pariwisata.

Kegiatan seperti promosi wisata, kalender event nasional dan regional, hingga program belanja massal menurutnya mampu menjaga aktivitas ekonomi daerah tetap bergairah.

BI Jatim memastikan, akan terus memberikan rekomendasi dan masukan kebijakan kepada pemerintah, agar insentif ekonomi dan kebijakan pendukung dunia usaha tetap berlanjut, sehingga pertumbuhan ekonomi Jatim dapat terjaga sepanjang 2026.

“Ini juga sudah menjadi perhatian kami, kita memberikan advisory kepada lemda bahkan kepada pemerintah pusat, bahwa di triluan berikutnya tetap harus ada simulasi bagi ekonomi, sementara dari government otoritas juga memberikan insentif kebijakan yang bisa memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.(ris/bil)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 9 Februari 2026
27o
Kurs