Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI menyebut ekspor perhiasan Indonesia turun 30 persen pada semester awal tahun 2026 dibandingkan periode sama tahun 2025.
Reni Yanita Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian RI menyebut, tahun ini nilai ekspornya hanya sekitar Rp3 miliar lebih, sementara tahun lalu Rp5 miliar.
“Ini jadi catatan untuk kami. Penurunan ekspor ini bisa dikejar 2-3 bulan ini tapi juga diatasi dengan peningkatan penjualan dalam negeri,” ujarnya saat membuka pameran Surabaya International Jewellery Fair 2026, Kamis (15/10/2026).

Upaya menggenjot ekspor ini, katanya, supaya para pelaku ekspor tidak menunda ekspornya. “Kemudian kalau ada hambatan di lapangan bisa dikomunikasikan dengan pemerintah karena sekali lagi yang namanya produsen kan pasti dia punya perizinan yang legal dan juga selama ini merekalah yang menjadi penghasil devisa,” bebernya.
Targetnya, Indonesia ingin naik peringkat dari posisi ke-17 eksportir perhiasan dunia sejak 2023 lalu yang belum meningkat.
Kemenperin juga menargetkan posisi Indonesia sebagai eksportir perhiasan dunia bisa meningkat. Sejak 2023, Indonesia masih berada di peringkat ke-17.
“Optimisme sih kalau dari kami sendiri sebenarnya ingin untuk itu, karena kan kita sudah ada jaminan bahan baku, tinggal dicek apa benar itu,” kata Reni.
Selain menggenjot ekspor, pemerintah mendorong peningkatan penjualan perhiasan di dalam negeri, salah satunya melalui penyelenggaraan pameran seperti Surabaya International Jewellery Fair 2026.
Sementara Iskandar Husin Ketua Penyelenggara Surabaya International Jewellery Fair 2026 mengatakan, sebanyak 80 peserta mengikuti pameran tersebut.
Menurut Iskandar, konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan desain saat membeli perhiasan, tetapi juga gramasi yang semakin beragam menyesuaikan segmen pasar. “Yang penting sesuai dengan Standar Nasional Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, Jeffrey Thumewa Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia menargetkan 10.000 pengunjung selama pameran berlangsung hingga 18 Oktober 2026.
“Target sama seperti tahun lalu. Tahun lalu melebihi, yaitu 12.000 pengunjung,” ungkapnya.
Jeffrey memperkirakan nilai transaksi pada pameran tahun ini berpotensi menurun seiring kondisi ekonomi yang lesu. Meski begitu, ia optimistis minat masyarakat terhadap perhiasan tetap terjaga karena emas juga banyak dipilih sebagai sarana menyimpan nilai.
“Karena kita lihat industri perhiasan ini adalah semacam warisan budaya, sudah membudaya kepada bangsa kita. Dari dulu sampai sekarang mereka tetap, walaupun kecil mereka beli, investasi, simpan,” pungkasnya. (lta/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

