Kenaikan harga energi global yang dipicu konflik geopolitik kembali menekan pasokan bahan bakar di Inggris. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar dilaporkan mengalami gangguan distribusi sementara di tengah lonjakan permintaan masyarakat.
Tekanan terhadap rantai pasok energi terjadi setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung pada jalur vital perdagangan energi dunia, Selat Hormuz. Lalu lintas di kawasan tersebut dilaporkan hampir terhenti, memperburuk distribusi minyak dan gas global.
Kondisi ini memicu kenaikan harga bahan bakar di Inggris. Harga bensin kini menembus level di atas 1,5 paun per liter, atau sekitar 7,25 dolar AS per galon. Harga tersebut meningkat sekitar 15 persen dibandingkan sebelum konflik.
Sementara itu, harga diesel melonjak hingga 1,77 paun per liter, atau sekitar 8,54 dolar AS per galon.
BACA JUGA: Inggris Siapkan Skema Penjatahan BBM di Tengah Ancaman Krisis Energi Global
Allan Leighton CEO Asda mengungkapkan bahwa sebagian kecil jaringan SPBU milik perusahaannya mengalami keterbatasan pasokan. Namun, ia menegaskan situasi tersebut bersifat sementara.
“Kami melihat peningkatan permintaan yang sangat kuat akibat volatilitas harga,” ujar Leighton dilansir dari Anadolu.
Ia menambahkan bahwa volume penjualan bahan bakar meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Permintaan jelas melampaui pasokan. Pasokan saat ini terbatas, dan kami terus bekerja keras mengatasinya. Ini masalah sementara, namun gangguan distribusi bisa terjadi selama periode pengiriman dan kemungkinan akan berlangsung beberapa waktu ke depan,” katanya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. (saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
