Selasa, 3 Maret 2026

IHSG Bergerak Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik AS-Israel dengan Iran

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Ilustrasi - Seorang pria memantau pergerakan saham melalui gawainya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (21/2/2025). Foto : Antara

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada Selasa (3/2/2026) pagi ini di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terjadi antara AS-Israel dan Iran.

IHSG bergerak menguat capai angka 43,04 poin atau 0,54 persen ke posisi 8.059,87. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,20 poin atau 0,64 persen ke posisi 817,69.

“Investor kini menimbang apakah ini shock jangka pendek atau konflik yang berlarut,” kata Liza Camelia Suryanata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia seperti dikutip dari Antara.

Ia menilai kekhawatiran pelaku pasar dipicu oleh eskalasi konflik yang sedang terjadi, seperti adanya prediksi inflasi baru dan gangguan di pasar energi global. Meskipun demikian, sejarah menunjukkan saham global cenderung cepat pulih pasca konflik kecuali jika lonjakan harga energi berkepanjangan.

Untuk diketahui, Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan terhadap Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke Israel, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, serta pangkalan AS di kawasan. Konflik ini memicu gelombang risk-off global.

Donald Trump Presiden AS menyatakan operasi akan berlangsung selama diperlukan, sementara Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan AS.

Dari kawasan Eropa, gangguan pengiriman di teluk meningkatkan risiko inflasi dan membayangi prospek kebijakan European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE). Sedangkan inflasi Zona Euro dan data ekonomi lainnya menjadi fokus lanjutan.

Dari kawasan Asia, Bank of Japan (BoJ) menyatakan suku bunga kini capai 0,75 persen setelah empat kali mengalami kenaikan sejak 2024. BoJ mengaku akan melanjutkan suku bunga secara bertahap menuju stance netral.

Sementara dari dalam negeri, PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 53,8 pada Februari 2026, dari 52,6 pada Januari, didorong lonjakan permintaan baru yang memacu pertumbuhan produksi tercepat sejak awal 2024 serta ekspansi tujuh bulan beruntun termasuk kenaikan pesanan ekspor tercepat sejak Mei 2022.

Surplus perdagangan Indonesia Januari 2026 menunjukkan kekhawatiran. Sebelumnya setahun lalu capai angka 3,49 miliar dolar AS hingga menyusut tajam menjadi 0,95 miliar dolar AS. Angka ini terjadi di tengah lonjakan impor 18,21 persen (yoy) ke 21,2 miliar dolar AS sementara ekspor hanya naik 3,39 persen ke 22,16 miliar dolar AS.

Kekhawatiran lainnya ada pada data inflasi Indonesia yang menunjukkan peningkatan menjadi 0,68 persen month to month (mtm) pada Februari 2026, dari sebelumnya deflasi 0,15 persen (mtm) pada Januari 2026.

Inflasi tahunan berakselerasi menjadi 4,76 persen year on year (yoy) pada Februari 2026 dari sebelumnya 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026, serta merupakan level tertinggi sejak Maret 2023

Sementara itu, pada perdagangan Selasa (2/3/2026), bursa AS di Wall Street mayoritas menguat, di antaranya indeks Dow Jones turun 0,15 persen ke 48.904,78, indeks S&P 500 naik 0,04 persen ke 6.881,60, indeks Nasdaq naik 0,36 persen ke 22.748,86, dan Russell 2000 naik 0,9 persen.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 1.352,59 poin atau 2,33 persen ke 56.704,60, indeks Shanghai melemah 32,58 atau 0,78 persen ke 4.150,00, indeks Hang Seng melemah 49,48 poin atau 0,19 persen ke 26.010,36, indeks Kuala Lumpur menguat 9,99 poin atau 0,59 persen ke 1.710,20, dan indeks Strait Times menguat 38,97 poin atau 0,80 persen ke 4.929,83.(ant/mar/lta/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 3 Maret 2026
30o
Kurs