Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak konsolidasi pada perdagangan Rabu (30/9/2026).
Investor diperkirakan lebih waspada terhadap potensi peningkatan fluktuasi menjelang penutupan kuartal III 2026.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka turun 3,65 poin atau 0,06 persen ke level 6.118,04. Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang turun 1,32 poin atau 0,22 persen menjadi 606,84.
Ratna Lim Kepala Riset Phintraco Sekuritas mengatakan, tekanan terhadap IHSG berpeluang mereda seiring berkurangnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Secara teknikal, IHSG sempat bangkit dari posisi terendah harian dan membentuk pola long lower shadow. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi adanya pembalikan arah atau reversal.
“IHSG membentuk long lower shadow namun karena masih ditutup di area negatif sehingga belum menunjukkan konfirmasi reversal. Beberapa indikator lain juga belum menunjukkan terjadinya reversal,” ujar Ratna dilansir dari Antara.
Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi pada rentang 6.050-6.200.
Investor juga perlu mencermati potensi fluktuasi yang lebih tinggi karena perdagangan Rabu bertepatan dengan hari terakhir kuartal III 2026.
Dari sisi fundamental domestik, perhatian pasar turut tertuju pada kebijakan fiskal pemerintah setelah DPR menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 menjadi undang-undang pada Selasa (29/9).
Dalam APBN 2027, pemerintah dan DPR mempertahankan target defisit fiskal sebesar Rp671,16 triliun atau setara 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, target pendapatan negara ditetapkan Rp3.435,10 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan usulan awal pemerintah sebesar Rp3.426,03 triliun.
Target belanja negara juga naik menjadi Rp4.106,26 triliun dari usulan awal Rp4.097,19 triliun.
Ratna menilai postur tersebut menunjukkan kebijakan ekspansi fiskal yang tetap terjaga. Kenaikan belanja terutama berasal dari belanja kementerian/lembaga (K/L), sementara transfer ke daerah dan target keseimbangan primer relatif tidak berubah.
“Postur APBN 2027 tersebut menunjukkan ekspansi fiskal yang relatif terjaga. Untuk kenaikan belanja terutama berasal dari belanja K/L, sedangkan transfer ke daerah dan target keseimbangan primer relatif tidak berubah,” jelasnya.
Menurut Ratna, kebijakan fiskal tersebut berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi domestik, terutama melalui konsumsi dan investasi.
Namun, ruang fiskal serta kebutuhan pembiayaan tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan karena defisit APBN 2027 masih berada pada level 2,4 persen terhadap PDB.
Sejumlah sektor prioritas juga mendapat alokasi anggaran besar dalam APBN 2027. Anggaran pendidikan ditetapkan Rp824 triliun, perlindungan sosial Rp539,7 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun, dan ketahanan pangan nasional Rp195,3 triliun. (ant/saf/ipg)








