Senin, 16 Maret 2026

IHSG Ditutup Melemah Seiring Tekanan Fiskal dan Pelemahan Rupiah

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Ilustrasi saham turun. Foto: suarasurabaya.net

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah 142,58 poin atau 2,00 persen ke posisi 6.994,63, pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (16/3/2026) sore.

Menurut Elandry Pratama pengamat pasar modal, ada dua faktor yang menyebabkan pelemahan IHSG, yaitu tekanan terhadap fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah. Dua hal tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar saham Indonesia dalam jangka pendek, karena investor global menjadi lebih selektif terhadap aset berisiko.

Meski demikian, menurut Elandry, dampaknya tidak akan merata, yang mana saham-saham berbasis komoditas energi berpotensi mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga minyak.

“Namun dampaknya tidak merata. Emiten berbasis komoditas energi berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga minyak, sementara sektor yang sensitif terhadap impor dan daya beli bisa menghadapi tekanan,” ujar Elandry, seperti dilansir Antara.

Dalam situasi seperti saat ini, ia mengatakan investor asing cenderung akan lebih berhati-hati, terutama apabila tekanan terhadap fiskal dan nilai tukar rupiah meningkat.

“Hal ini bisa mendorong sebagian investor global melakukan penyesuaian portofolio di pasar negara berkembang salah satunya Indonesia,” ujar Elandry.

Sementara itu, lanjutnya, investor domestik akan cenderung melihat kondisi secara lebih fundamental.

“Selama stabilitas ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal tetap terjaga, minat investor domestik biasanya masih cukup kuat,” ujar Elandry.

Elandry menjelaskan, tekanan terhadap fiskal Indonesia saat ini meningkat seiring lonjakan harga minyak global serta pelemahan nilai tukar Rupiah.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level 98,53 dolar AS per barel, sementara jenis Brent di level 105,60 dolar AS per barel, data perdagangan hari ini pukul 15.30 WIB.

“Kondisi ini berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN, karena asumsi harga minyak dalam anggaran jauh lebih rendah dari harga pasar,” ujar Elandry.

Di sisi lain, Elandry meyakini secara fundamental ruang fiskal Indonesia masih relatif terjaga seiring masih adanya berbagai opsi penyesuaian yang dimiliki oleh pemerintah.

“Pemerintah masih memiliki beberapa opsi penyesuaian melalui pengelolaan belanja, optimalisasi penerimaan negara, serta pengaturan subsidi energi yang lebih adaptif,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Elandry menyatakan harapan dari investor, diantaranya pemerintah dapat menjaga kredibilitas fiskal di tengah tekanan global, terutama melalui disiplin pengelolaan defisit.

“Serta pengaturan subsidi energi yang lebih adaptif untuk menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia,” tandasnya.(ant/ily/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Senin, 16 Maret 2026
24o
Kurs