Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 1,51 persen pada perdagangan Senin (28/9/2026).
Tekanan datang dari kombinasi sentimen global dan domestik, termasuk ketidakpastian di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak.
IHSG turun 94,03 poin atau 1,51 persen ke level 6.147,86. Indeks LQ45 juga melemah 9,30 poin atau 1,50 persen menjadi 611,81.
Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, tekanan terhadap IHSG berasal dari sentimen eksternal dan internal.
“Sentimen eksternal dan internal membebani pergerakan IHSG. Dari eksternal, bursa regional Asia cenderung bergerak melemah seiring ketidakpastian yang kembali muncul di Timur Tengah dan harga minyak yang lebih tinggi,” ujar Nico dilansir dari Antara.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat (AS). Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump juga menyebut Teheran telah bertindak berlebihan dan berharap negosiasi kembali dilanjutkan pekan ini.
Kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS turut menjadi perhatian. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun mendekati 5,17 persen, memunculkan kekhawatiran mengenai kondisi keuangan global yang semakin ketat serta potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Beth Hammack Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland menyebut faktor tersebut, bersama kekhawatiran terhadap utang pemerintah, turut berkontribusi terhadap kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS jangka panjang.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap tingginya harga minyak yang berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal.
Selain itu, pasar mencermati perubahan ketentuan perdagangan saham di BEI. BEI mengubah batas bawah harga saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1.
Perubahan tersebut disebut sebagai bagian dari reformasi pasar sekaligus respons terhadap perhatian MSCI terhadap struktur pasar modal domestik.
BEI juga memperketat kriteria Full Call Auction (FCA). Penyesuaian tersebut menyebabkan 92 saham keluar dari Papan Pemantauan Khusus.
Nico menilai perubahan batas harga saham dapat mendukung kepercayaan investor institusi global terhadap pasar modal Indonesia karena mendorong pasar yang lebih terbuka dan adaptif.
Namun, kebijakan tersebut juga memiliki potensi dampak terhadap perilaku investor ritel.
“Di sisi lain berpotensi menciptakan tekanan psikologis atau kepanikan bagi sebagian investor ritel dan rawan dimanfaatkan oleh para spekulan pasar modal untuk melakukan manipulasi jangka pendek,” ujar Nico.
IHSG dibuka melemah pada awal perdagangan dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama. Tekanan berlanjut pada sesi kedua hingga perdagangan saham berakhir.
Berdasarkan data perdagangan BEI, sebanyak 192 saham ditutup menguat, 554 saham melemah, dan 217 saham tidak mengalami perubahan harga.
Frekuensi transaksi tercatat sekitar 1,63 juta kali dengan volume perdagangan mencapai 34,07 miliar saham. Nilai transaksi saham mencapai Rp12,57 triliun.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang melemah 0,69 persen ke 65.908,00, Shanghai turun 1,67 persen ke 3.823,62, dan Kuala Lumpur melemah 2,70 persen ke 6.889,74.
Sementara itu, Hang Seng Hong Kong menguat 0,54 persen menjadi 24.642,51 dan Straits Times Singapura naik 0,49 persen ke 5.739,01.
Untuk saham yang mencatat penguatan harga terbesar antara lain TAMU, BLTA, MIRA, PBRX, dan PPRO. Sedangkan saham dengan pelemahan harga terbesar yakni FORU, TRUE, SHID, MGNA, dan LIFE. (ant/saf/ipg)








