Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada penutupan perdagangan Senin (5/10/2026), mengikuti tren positif bursa saham Asia di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap sikap dovish Federal Reserve atau The Fed pada pertemuan Oktober 2026.
IHSG ditutup naik 81,97 poin atau 1,36 persen ke level 6.118,86. Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang bertambah 7,77 poin atau 1,30 persen menjadi 603,23.
Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, penguatan bursa kawasan Asia dipengaruhi data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan.
“Bursa regional Asia bergerak menguat seiring dengan data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah mendorong dan mengurangi tekanan pada The Fed untuk terus memperketat kebijakan moneter,” ujar Nico.
Data ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan pekerjaan pada September 2026 hanya mencapai 29.000 posisi. Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 90.000 pekerjaan.
Pada periode yang sama, tingkat pengangguran AS meningkat menjadi 4,2 persen. Pertumbuhan upah tahunan juga melambat secara tidak terduga menjadi 3,0 persen.
Menurut Nico, pelemahan data ketenagakerjaan tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut.
“Namun demikian, pasar juga berhati-hati seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia yang masih tinggi,” kata Nico dilansir dari Antara.
Dari dalam negeri, pergerakan IHSG masih menghadapi sejumlah sentimen yang berpotensi menahan penguatan.
Faktor tersebut antara lain tekanan terhadap rupiah, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi, serta harga minyak dunia yang masih berada di level tinggi meskipun mulai menurun.
Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun tercatat turun ke sekitar 5,25 persen, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun bergerak menuju 5,6 persen. Meski mengalami penurunan, kedua imbal hasil tersebut masih berada pada level tinggi.
Harga minyak dunia yang masih tinggi juga menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, terlebih di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
“Alhasil ada kekhawatiran mengenai kerentanan eksternal Indonesia, meskipun surplus perdagangan Agustus 2026, dengan risiko inflasi meningkat setelah inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen,” ujar Nico.
Pergerakan IHSG berada di zona hijau sejak pembukaan perdagangan. Indeks bertahan di teritori positif hingga berakhirnya sesi pertama dan melanjutkan penguatan pada sesi kedua sampai penutupan.
Berdasarkan klasifikasi sektor IDX-IC, sebanyak 10 sektor mencatat penguatan. Sektor properti menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,13 persen.
Selanjutnya, sektor barang baku naik 1,89 persen dan sektor barang konsumen nonprimer menguat 1,84 persen.
Sementara itu, hanya sektor teknologi yang berada di zona merah dengan penurunan 0,98 persen.
Sejumlah saham mencatat penguatan terbesar, antara lain AKKU, PPRI, KKES, BLTZ, dan MITI. Sebaliknya, saham INTD, SONA, FORU, JAWA, dan TIRA menjadi saham dengan pelemahan terbesar.
Aktivitas perdagangan saham pada Senin tercatat sebanyak 1,64 juta kali transaksi. Volume perdagangan mencapai 40,24 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp9,96 triliun.
Sebanyak 547 saham ditutup menguat, 164 saham melemah, sedangkan 252 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
Penguatan juga terjadi di mayoritas bursa saham kawasan Asia. Indeks Nikkei Jepang naik 2,45 persen ke 69.986,00, Kospi Korea Selatan menguat 0,46 persen ke 7.003,74, Hang Seng Hong Kong naik 0,28 persen ke 24.040,34, Kuala Lumpur menguat 0,05 persen ke 1.631,75, dan Straits Times Singapura naik 0,42 persen ke 5.658,70.
Sementara itu, bursa Shanghai di China tidak diperdagangkan karena libur dalam rangka Golden Week atau peringatan Hari Nasional China. (ant/saf/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

