Rabu, 11 Maret 2026

Importir Waspadai Dampak Konflik Global terhadap Harga Bahan Baku

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Kapal tanker Callisto berlabuh karena lalu lintas di Selat Hormuz sepi, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Muscat, Oman pada Selasa (10/3/2026). Foto: Reuters

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dengan Israel-Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha impor di Indonesia. Konflik yang berpotensi berkepanjangan dinilai dapat memicu kenaikan harga komoditas global sekaligus mengganggu rantai pasok bahan baku industri dalam negeri.

Hana Belladina Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur mengatakan, dinamika geopolitik global yang tidak stabil bisa menimbulkan efek domino bagi aktivitas perdagangan internasional, termasuk kegiatan impor bahan baku yang sangat bergantung pada pasar global.

“Konflik atau ketegangan geopolitik yang berlangsung beberapa hari saja sudah bisa memberi dampak tidak langsung bagi pelaku usaha di banyak negara, termasuk importir bahan baku di Indonesia,” ujar Bella dalam keterangan resmi yang diterima suarasurabaya.net pada Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, dampak konflik geopolitik biasanya muncul melalui berbagai jalur, mulai dari perubahan harga komoditas, gangguan logistik, hingga ketidakpastian distribusi barang di pasar internasional.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus bersiap menghadapi potensi peningkatan biaya produksi maupun risiko keterlambatan pasokan bahan baku.

Salah satu dampak yang paling cepat terasa adalah kenaikan harga bahan baku impor. Ketegangan geopolitik kerap memicu lonjakan harga komoditas global seperti energi, logam, dan bahan kimia yang menjadi komponen penting bagi berbagai industri.

Bella menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada biaya produksi bahan baku industri. Akibatnya, harga barang impor turut meningkat sehingga importir harus menanggung biaya pembelian yang lebih tinggi.

“Jika harga minyak dunia naik, biaya produksi bahan baku ikut meningkat dan pada akhirnya harga barang impor juga naik. Kondisi ini membuat margin keuntungan pelaku usaha menurun dan tidak jarang harga produk akhir terpaksa dinaikkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, konflik di kawasan Timur Tengah juga berkaitan erat dengan dinamika harga minyak mentah dunia yang menjadi bahan baku penting bagi industri petrokimia.

“Peperangan di kawasan tersebut menyebabkan harga crude oil yang menjadi bahan baku industri plastik dalam negeri maupun luar negeri, termasuk China, mengalami kenaikan. Dampaknya harga plastik naik sekitar 14,5 persen,” ujarnya.

Selain kenaikan harga komoditas, konflik geopolitik juga berpotensi mengganggu rantai pasok global. Jalur perdagangan internasional yang terdampak konflik dapat memaksa kapal pengangkut barang untuk mengubah rute pelayaran, sehingga waktu pengiriman menjadi lebih lama.

Menurut Bella, perubahan rute pelayaran tersebut juga bisa membuat jadwal pengiriman menjadi tidak menentu. Dampaknya, bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri berisiko terlambat tiba di pelabuhan.

“Bagi importir, keterlambatan bahan baku bisa berdampak langsung pada aktivitas produksi di pabrik dalam negeri. Jika pasokan terganggu, maka produksi juga bisa ikut terhambat,” katanya.

Situasi global yang tidak stabil juga berpotensi meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi pengiriman internasional. Risiko pelayaran yang lebih tinggi biasanya membuat tarif pengiriman kontainer ikut meningkat.

Kenaikan harga minyak mentah turut memengaruhi biaya bahan bakar kapal. Akibatnya, ongkos pengiriman barang dari negara pemasok seperti China ke Indonesia berpotensi naik. Namun hingga kini pelaku usaha masih terus memantau perkembangan tarif logistik internasional.

“Untuk biaya ongkir dari China terbaru masih sedang kami dalami karena situasinya sangat dinamis,” kata Bella.

Selain minyak, Indonesia juga mengimpor berbagai bahan baku industri dari kawasan Timur Tengah. Produk yang diimpor antara lain bahan petrokimia seperti polypropylene (PP), polyethylene (PE), methanol, styrene, hingga ethylene glycol.

Bahan-bahan tersebut digunakan oleh berbagai sektor industri, mulai dari industri plastik, kemasan, tekstil sintetis, otomotif, hingga elektronik. Negara pemasok utama komoditas tersebut antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Selain produk petrokimia, Indonesia juga mengimpor bahan baku pupuk seperti urea, ammonia, diammonium phosphate (DAP), serta sulfur. Komoditas tersebut memiliki peran penting bagi sektor pertanian dan industri pupuk nasional.

Di Jawa Timur sendiri, bahan baku impor tersebut banyak dimanfaatkan oleh industri manufaktur di kawasan Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Industri di wilayah ini menggunakan berbagai bahan baku seperti resin plastik, produk petrokimia, hingga logam seperti aluminium untuk menunjang proses produksi.

Dalam situasi ketidakpastian global, Bella menilai para importir perlu menyiapkan langkah mitigasi agar aktivitas usaha tetap berjalan stabil. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah meningkatkan cadangan bahan baku atau safety stock.

“Importir perlu menyiapkan langkah antisipasi seperti menambah safety stock, memesan barang lebih awal, serta memantau jadwal pengiriman dengan supplier dan forwarder,” ujarnya.

Selain itu, pelaku usaha juga perlu melakukan diversifikasi sumber pasokan bahan baku, memperkuat manajemen stok, serta mengantisipasi fluktuasi nilai tukar agar kegiatan impor tetap berjalan di tengah ketidakpastian geopolitik global. (saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Rabu, 11 Maret 2026
32o
Kurs