Selasa, 13 Januari 2026

Lonjakan Emas Didukung Ketidakpastian Politik dan Ketegangan Global

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi emas batangan di atas tumpukan uang. Foto: iStock

Harga emas dunia kembali mencatat rekor tertinggi di level 4.591 dolar AS per troy ounce, dengan potensi melanjutkan penguatan dalam sepekan ke depan.

Lonjakan harga ini juga tercermin di pasar domestik, dengan emas Logam Mulia Antam berada di level Rp2.651.000 per gram.

Ibrahim Assuabi analis mata uang dan komoditas menyatakan, kenaikan harga emas dipicu kombinasi ketidakpastian politik Amerika Serikat, kebijakan bank sentral, dan meningkatnya tensi geopolitik global.

“Ketidakpastian politik membuat investor kembali mencari aset aman seperti emas,” ujar Ibrahim dilansir dari Antara.

Menurutnya, dari sisi teknikal, jika terjadi koreksi, support pertama emas dunia berada di 4.553 dolar AS per troy ounce (Rp2.620.000 per gram), dan support kedua di 4.516 dolar AS (Rp2.580.000 per gram).

Sementara resistance pertama diperkirakan di 4.650 dolar AS per troy ounce (Rp2.850.000 per gram), dan resistance kedua di kisaran 4.700 dolar AS (Rp3.100.000 per gram).

Kenaikan harga emas dunia dipengaruhi oleh dinamika politik AS, termasuk isu yang menyeret Jerome Powell Ketua The Fed menjelang masa pensiunnya pada Mei mendatang, serta pemanggilan mantan Lisa Cook Gubernur The Fed oleh Kejaksaan Agung AS terkait pemecatannya.

Selain itu, agenda politik besar dan isu perang dagang menambah ketidakpastian pasar.

Dari sisi moneter, meski The Fed mencatat pertumbuhan tenaga kerja, terdapat indikasi pelemahan ekonomi AS yang membuka peluang penurunan suku bunga lebih dari sekali sepanjang 2026, yang berpotensi menopang harga emas.

Faktor geopolitik global juga memperkuat minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Ketegangan di Timur Tengah, terutama di Iran pasca demonstrasi besar, konflik Israel-Lebanon, serta potensi eskalasi perang Rusia-Ukraina, menjadi pendorong tambahan.

Di dalam negeri, kenaikan harga Logam Mulia Antam juga terdorong oleh melemahnya nilai tukar rupiah, dengan potensi berada di kisaran Rp16.820–Rp16.900 per dolar AS hingga akhir pekan.

“Kemudian masalah supply dan demand pun juga sama. Permintaan cukup banyak di dalam negeri, barangnya juga tidak ada. Sehingga ini yang mendongkrak harga logam mulia kembali mengalami penguatan,” tuturnya. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 13 Januari 2026
27o
Kurs