Kamis, 8 Oktober 2026

Menkeu: APBN Harus Fleksibel Hadapi Gejolak Global

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Suahasil Nazara Menteri Keuangan saat ditemui di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Foto: Antara

Suahasil Nazara Menteri Keuangan (Menkeu) mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dirancang fleksibel agar mampu merespons berbagai perubahan kondisi global.

Menurut Suahasil, fleksibilitas itu dibutuhkan karena perekonomian dapat terdampak ketegangan geopolitik, volatilitas harga komoditas, hingga bencana alam.

“APBN harus dijalankan dengan cukup fleksibel, karena harus bisa beradaptasi dengan yang namanya kondisi dunia yang berubah,” kata Suahasil di Jakarta, Kamis (8/10/2026) dikutip Antara.

Ia menjelaskan, APBN berperan sebagai peredam guncangan atau shock absorber untuk menjaga perekonomian saat menghadapi tekanan, termasuk perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menurut Suahasil, meskipun APBN ditetapkan melalui undang-undang, pelaksanaannya tetap harus mampu menyesuaikan perkembangan situasi.

“Lalu kondisi dunia berubah, ketegangan geopolitik muncul, tiba-tiba Amerika dengan Iran main perang, tiba-tiba bencana alam, tiba-tiba volatilitas harga komoditas,” ujarnya.

Suahasil menyebut sejumlah instrumen APBN dapat digunakan sebagai penyangga ketika perekonomian menghadapi tekanan. Di antaranya subsidi dan kompensasi energi, subsidi pupuk, program perlindungan sosial, serta pembangunan infrastruktur.

Meski begitu, fleksibilitas APBN bukan berarti pemerintah dapat menggunakan anggaran tanpa batas. “Tapi enggak boleh fleksibel dan semau-maunya. Fleksibel, tapi dengan tata kelola yang baik,” katanya.

Ia menegaskan, pelaksanaan APBN tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Penyesuaian anggaran juga dilakukan dengan mempertimbangkan perubahan kondisi ekonomi, termasuk pergerakan harga minyak.

Terkait APBN 2026, Suahasil mengatakan pemerintah terus melakukan rekalibrasi anggaran agar sesuai dengan perkembangan ekonomi terkini.

“Dari APBN awal tersebut, kami terus melakukan rekalibrasi, sehingga pada bulan Juni kemarin, kita melihat outlook penerimaan bisa sedikit naik karena harga komoditas ini naik, karena Coretax sudah bekerja dengan baik, lalu kemudian belanja juga bisa sedikit naik, dan tentu defisit APBN-nya juga naik,” ujarnya. (ant/bil/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 8 Oktober 2026
33o
Kurs