Kamis, 5 Maret 2026

Menko Perekonomian Klaim Amankan Pasokan Energi dari AS dan Pertamina Venezuela

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Airlangga Hartarto Menteri Koordiantor Bidang Perekonomian di Jakarta, Kamis (20/11/2025). Foto: Antara

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan pemerintah telah mengamankan pasokan energi sebagai langkah antisipasi dari konflik Iran dan Amerika Serikat-Israel, yang berimbas terganggunya pengiriman minyak di wilayah Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

Katanya alternatif pasokan minyak diperoleh melalui kerja sama dagang dengan AS, serta pasokan minyak PT Pertamina dari Venezuela.

“Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai dari energi kita sudah juga melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga Pertamina punya akses di Venezuela,” kata Airlangga dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Melansir Antara, pemerintah terus memantau perkembangan situasi global yang dinamis. Airlangga mengeklaim, Indonesia lebih siap menghadapi ketidakpastian global, setelah belajar dari lonjakan harga energi akibat perang Russia–Ukraina.

Ada 2 sisi yang bisa dilihat dari kondisi ini. Pemerintah harus menjaga subsidi energi agar tidak membebani masyarakat, namun kenaikan harga komoditas juga berpotensi meningkatkan penerimaan negara.

“Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi ya kita akan lanjutkan. Dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau (harga) komoditas itu naik,” ujarnya.

Meski begitu, ia menilai masih terlalu dini menghitung dampak penuh konflik Timur Tengah terhadap ekonomi nasional. “Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call,” imbuhnya.

Airlangga menambahkan, ketidakpastian global membuat investor cenderung menahan ekspansi sehingga ketahanan ekonomi menjadi kunci.

“Inilah yang harus kita dorong karena the new world juga membuat semua investasi akan melihat kembali, dan juga akan menahan karena dalam situasi seperti ini tentu daya tahan, resiliensi itu yang paling utama termasuk juga di sektor ekonomi,” ujarnya.

Berdasarkan dokumen kesepakatan dagang resiprokal Indonesia-AS, Indonesia berkomitmen membeli komoditas energi dari AS senilai sekitar 15 miliar dolar AS, mencakup impor liquefied petroleum gas (LPG) 3,5 miliar dolar AS, minyak mentah 4,5 miliar dolar AS, dan bensin hasil kilang 7 miliar dolar AS.(ant/lea/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Kamis, 5 Maret 2026
28o
Kurs