Senin, 9 Februari 2026

Mentan Tegaskan Impor Bawang Putih Dihentikan Lima Tahun ke Depan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian (Mentan) saat kunjungan ke Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Senin (9/2/2026). Foto: Antara

Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian (Mentan) menegaskan, impor bawang putih dapat dihentikan dalam lima tahun ke depan melalui peningkatan luas tanam, produktivitas, serta penguatan kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

Ia menekankan, penghentian impor bawang putih bukan sekadar wacana, melainkan agenda yang telah memiliki batas waktu jelas dan terukur.

“Kita hentikan import mungkin 3–4 tahun ke depan, paling lambat lima tahun. Kalau bisa empat tahun, paling lambat lima tahun,” kata Mentan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (9/2/2026) yang dikutip Antara.

Menurut Mentan, keseriusan Pemerintah dalam mendorong swasembada bawang putih merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Prabowo Subianto Presiden RI. Ia menegaskan bahwa percepatan dilakukan tanpa menunggu birokrasi panjang.

“Bapak Presiden sudah arahkan via telepon hari Sabtu lalu. Hari Minggu tim berangkat, hari Senin kami sudah tiba di sini (Nusa Tenggara Barat) untuk merealisasikan itu. Kita buat program khusus,” tegas Mentan.

Ia menegaskan, optimisme Indonesia untuk segera mencapai swasembada bawang putih nasional dengan menjadikan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu pilar utama pengembangannya.

Di hadapan petani bawang putih, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta jajaran pemerintah daerah di kawasan Sembalun, Mentan memamerkan kesiapan produksi nasional sekaligus menegaskan target penghentian impor bawang putih dalam beberapa tahun ke depan.

Amran menyatakan, kunci swasembada bawang putih terletak pada keberanian menetapkan target luas tanam yang memadai dan konsistensi kerja di lapangan. Ia menegaskan kebutuhan minimal luas tanam nasional untuk mencapai kemandirian bawang putih.

“Bawang putih di NTB, minimal 25.000 hektare. Kalau mampu 50.000, ini bisa men-supply provinsi-provinsi lain,” ucapnya.

Ia mengatakan, NTB memiliki keunggulan nyata sebagai sentra pengembangan bawang putih nasional. Selain potensi lahan yang luas, produktivitas bawang putih di daerah ini dinilai sangat menjanjikan.

“Yang menarik, NTB ini produksinya 20 ton. Tadi ada yang 28 ton per hektare. Ini sangat menarik untuk kita kembangkan. Indonesia pasti bisa. Paling tinggi 100.000 hektare tanaman bawang, itu sudah swasembada.” lanjutnya.

Mentan Amran menekankan bahwa target swasembada bawang putih secara nasional relatif kecil jika dibandingkan dengan luas tanaman pangan strategis lain, seperti padi.

“Tau nggak tanaman beras, tanaman padi, 7,4 juta hektare. 7,4 juta saja kita selesaikan, apalagi 100.000 hektare. Saya kira cuma dua gubernur, tiga gubernur menyelesaikan itu. NTB, mungkin Sumatera Utara, dan Jawa Tengah,” imbuhnya.

Sebelumnya Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto Ketua Komisi IV DPR RI mendorong Indonesia memperluas swasembada pangan, tidak hanya beras dan jagung, tetapi juga komoditas strategis lain, seperti bawang putih hingga kedelai.

“Saya mendorong untuk swasembada bawang putih sama kedelai,” kata Titiek saat ditemui setelah menghadiri Talkshow Panen Fest 2026 di Jakarta, Sabtu lalu (7/2/2026).

Ia berharap agar ke depan Indonesia mampu mencapai swasembada mulai dari gula, garam, kedelai, bawang putih, serta berbagai jenis bawang yang selama ini masih dipenuhi dari pasokan luar negeri. (ant/zan/bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 9 Februari 2026
26o
Kurs