Selasa, 10 Maret 2026

Negara G7 Siap Lepas Cadangan Minyak Imbas Konflik Timur Tengah

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Kapal berlabuh karena Selat Hormuz ditutup, dan Korps Garda Revolusi Islam Iran mengancam membakar kapal yang mencoba lewat. Foto Al Jazeera

Negara-negara G7 menyatakan siap mengambil mengabil langkah yang diperlukan, termasuk melepaskan cadangan minyak.

Pernyataan ini dikeluarkan usai pertemuan virtual dilakukan para menteri keuangan G7 dan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA).

“Kami siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti pelepasan cadangan,” ungkap G7 seperti dilansir BBC, Selasa (10/3/2026).

Pertemuan ini membahas pasar minyak global yang memburuk dalam beberapa hari terakhir. Harga minyak mencapai hampir $120 per barel karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Imbas perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, Fatih Birol Direktur Eksekutif IEA mengatakan transit pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu.

“Selain tantangan transit melalui Selat Hormuz, sejumlah besar produksi minyak telah dikurangi. Hal ini menciptakan risiko yang signifikan dan terus meningkat bagi pasar,” ujarnya.

Birol juga mengungkap lembaganya memiliki cadangan minyak darurat.

“Negara-negara anggota IEA saat ini memiliki lebih dari 1,2 miliar barel stok minyak darurat publik, dengan tambahan 600 juta barel stok industri yang dipegang berdasarkan kewajiban pemerintah.”

Meksi begitu, pertemuan tersebut dikabarkan belum membentuk kesepakatan untuk melepaskan cadangan minyak mentah strategis. Jika cadangan tersebut dilepaskan, ini akan menjadi pertama kalinya sejak tahun 2022, setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.

Rachel Reeves Menteri Keuangan menyatakan Inggris menggunakan pertemuan tersebut menyerukan de-eskalasi segera di Timur Tengah. Ini jadi penting untuk menjamin keamanan bagi kapal-kapal di wilayah tersebut.

“Saya siap mendukung pelepasan cadangan minyak IEA secara terkoordinasi,” tambahnya.

Katanya gangguan terbesar pasokan energi di Selat Hormuz mengancam kenaikan harga bagi konsumen dan bisnis di seluruh dunia. Meningkatnya inflasi dapat menyebabkan berkurangnya pemangkasan suku bunga oleh bank sentral.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya dikirim melalui Selat Hormuz. Namun, lalu lintas melalui jalur sempit itu hampir terhenti sejak perang dimulai lebih dari seminggu yang lalu.(lea/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 10 Maret 2026
34o
Kurs