Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdangan Kamis (8/10/2026) pagi mengalami penguatan 16 poin menjadi Rp17.871 per dolar AS.
Josua Pardede Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan ketahanan rupiah didukung oleh posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia bulan September 2026 yang hanya turun tipis.
“Ketahanan rupiah juga didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang hanya turun tipis sebesar 0,2 miliar dolar AS menjadi 146,3 miliar dolar AS pada September 2026, meskipun terjadi net outflow di pasar portofolio,” katanya, melansir Antara, Kamis (8/10/2026).
Posisi cadev September 2026 itu, lanjut Josua, dipengaruhi terutama oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia (BI) sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi.
Lebih lanjut, posisi cadev pada akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Pada Rabu (7/10/2026) kemarin, Rupiah bergerak sideways dan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang Asia.
“Sebagian besar mata uang regional melemah seiring meningkatnya tensi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak,” kata Josua.
The Fed juga merilis notulen Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026, yang menunjukkan bahwa seluruh 19 anggota voting mendukung kenaikan policy rate.
“Mayoritas anggota juga mendukung kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun, terutama karena tekanan inflasi yang persisten dan masih sticky,” ujar dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS.(ant/kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

