Kamis, 12 Maret 2026

Pemerintah Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Jelang Lebaran 2026

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi petugas SPBU melayani pembelian BBM bersubsidi jenis Pertalite. Foto: Pertamina

Harga bahan bakar minyak (BBM) dipastikan tidak akan naik sampai dengan Idulfitri 2026, di tengah gejolak harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

Hal tersebut disampaikan oleh Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Selasa (10/3/2026). Bahlil mengaku telah mendiskusikan masalah harga BBM dengan Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu).

“Pemerintah, kemarin kita juga melakukan pembahasan dengan Menteri Keuangan, saya dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM, sampai dengan Hari Raya (Idulfitri) Insyaallah tidak ada kenaikan apa-apa. Jadi, negara hadir untuk memastikan bahwa sekali pun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tetapi untuk subsidi tetap sama, tidak ada kenaikan harga, untuk minyak subsidi ya,” ucap Bahlil, dilansir dari Antara.

Melengkapi pernyataan Bahlil, Purbaya Menkeu turut menerangkan bahwa ketersediaan anggaran untuk subsidi BBM masih aman, terlebih pada saat bulan Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri.

“Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun 70 (dolar AS per barel) asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saya. Jadi, belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi kita masih bisa absorb,” ujarnya.

Purbaya mengungkapkan bahwa harga minyak mentah dunia masih akan fluktuatif. Per hari ini harga minyak mentah dunia telah turun di bawah 100 dolar AS per barel, dan masih bergerak pada kisaran 80-90 dolar AS per barel.

“Itu bisa naik, bisa turun cepat loh. Jadi, kita lihat, pastikan, betul enggak naik, betul enggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik, ya sudah kita bisa antisipasi naik terus. Ini kan enggak. (Harga, red.) naik, tiba-tiba turun lagi. Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah lagi, repot kan. Jadi, menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibandingkan dengan merespons gerakan saham,” ujar Purbaya.

Oleh karenanya, pemerintah, kata Purbaya, akan terus melakukan pengamatan pada tren harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu ke depan, sebelum pada akhirnya mengambil kebijakan dalam menanggapi hal tersebut.

“Saya pikir cukup (sebulan mengamati harga, red.), sekarang ini berubah-ubah kan120 (dolar AS per barel) yang kemarin, tinggi. Berapa sekarang, 90 (dolar AS per barel). Kalau turun lagi bagaimana? Kan berubah terus. Jadi, kita nanti tebak arahnya yang sebetulnya seperti apa,” tutur Menkeu. (ant/vve/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Kamis, 12 Maret 2026
34o
Kurs