Media Iran Nour News melaporkan, mata uang rial Iran mencapai level terendah dalam sejarah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (29/1/2026).
Dolar AS dijual di angka 1.580.000 rial di pasar domestik, sehingga mempercepat penurunan nilai tukar mata uang tersebut.
Berdasarkan data dari situs pemantau mata uang, rial Iran terindikasi kehilangan lima persen nilainya sejak awal bulan ini.
Melansir dari Antara, media Iran tersebut mengaitkan merosotnya nilai mata uang tersebut dengan kombinasi ketegangan internasional yang meningkat, kebijakan ekonomi domestik, fluktuasi pasar global, serta naiknya permintaan lokal terhadap mata uang asing.
Pemerintah telah berupaya menstabilkan pasar, dengan upaya terbaru melalui penunjukan kembali mantan gubernur bank sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, pada Desember lalu. Hemmati menggantikan Mohammad-Reza Farzin yang mengundurkan diri, dan ditugaskan untuk meredam hiperinflasi, menstabilkan nilai tukar, serta menangani ketidakseimbangan perbankan dan korupsi ekonomi yang telah berlangsung lama, menurut pemerintah Iran.
Meski mengalami depresiasi yang tajam, Hemmati baru-baru ini mengabaikan volatilitas tersebut dengan menyatakan bahwa pasar valuta asing sedang mengikuti “jalur alaminya”.
Tekanan ekonomi tersebut juga telah memicu keresahan domestik. Pada bulan lalu, para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko-toko mereka sebagai bentuk protes atas anjloknya nilai rial serta rencana pemerintah untuk menghapuskan subsidi makanan dan bahan bakar tertentu.
Aksi demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember itu dengan cepat menyebar ke seluruh negeri, merambah ke ranah politik, dan berujung pada kekerasan. Otoritas Iran berulang kali menepis ketidakstabilan itu dan menyebutnya sebagai hasutan pihak asing, menuduh AS dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan yang terjadi.(ant/ily/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
