Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026) di Jakarta, melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.758 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.740 per dolar AS.
Sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.762 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.748 per dolar AS.
Taufan Dimas Hareva analis mata uang menganggap pelemahan kurs rupiah dipengaruhi sikap risk-off pelaku pasar.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global yang masih didominasi penguatan dolar AS dan sikap risk-off pelaku pasar,” katanya dilansir dari Antara.
Meskipun Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur ISM AS mengalami kontraksi, data tersebut belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Tercatat, data PMI ISM bulan Desember 2025 sebesar 47,9 persen atau mengalami penurunan 0,3 poin persentase dibandingkan dengan angka pada November 2025 yang sebesar 48,2 persen, dan di bawah perkiraan 48,3 persen.
“Imbal hasil US Treasury yang masih tinggi serta ekspektasi suku bunga AS bertahan lebih lama mendorong aliran dana tetap bertahan di aset dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelasnya.
Melihat sentimen domestik, lanjutnya, tekanan terhadap rupiah berasal dari masih tingginya permintaan valas untuk kebutuhan impor dan kewajiban korporasi, di tengah sikap hati-hati pelaku pasar.
Kondisi ini disebut membuat rupiah ditutup melemah kendati tekanan intraday sempat berkurang.
“Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp16.750–Rp16.780 per dolar AS,” ujarnya. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
