Senin, 9 Maret 2026

Rupiah Ditutup Melemah Rp16.949 per Dolar AS, Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (15/5/2025). Foto: Antara

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menurun pada perdagangan Senin sore (9/3/2026). Kurs rupiah terdorong oleh tekanan eksternal akibat lonjakan harga minyak dunia dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Rupiah ditutup melemah 24 poin ke level Rp16.949 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.925 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh level terendah dengan pelemahan hingga 70 poin.

Ibrahim Assuaibi pengamat pasar uang menekankan bahwa pelemahan ini dipicu oleh sentimen eksternal dan internal, terutama lonjakan harga minyak yang kini menyentuh sekitar 92 dolar AS per barel, level tertinggi sejak 2020.

“Harga minyak yang melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel berpotensi meningkatkan defisit anggaran hingga Rp6,8 triliun. Jika harga terus meroket mendekati 100 dolar AS per barel, defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen,” ujar Ibrahim.

Dilansir dari Antara, ketegangan geopolitik semakin memanas setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat menargetkan fasilitas minyak Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal terhadap beberapa lokasi.

Iran juga dilaporkan menyerang kapal-kapal di jalur strategis Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

Selain itu, perubahan kepemimpinan di Iran juga menambah ketidakpastian. “Iran menunjuk Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran,” tambah Ibrahim.

Sentimen dari Asia juga memengaruhi pergerakan rupiah. Inflasi konsumen (CPI) China tercatat tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari, melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,9 persen dan menjadi laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Kenaikan ini terutama dipicu lonjakan konsumsi selama libur Tahun Baru Imlek, meski inflasi produsen masih menunjukkan kontraksi.

Ibrahim menekankan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Pertama, efisiensi anggaran dengan memfokuskan belanja pada kebutuhan dasar masyarakat, termasuk pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan.

Kedua, pengurangan konsumsi minyak melalui konversi energi menuju sumber terbarukan seperti PLTS, PLTA, dan PLTB. Ketiga, memperkuat stimulus ekonomi melalui deregulasi, penyederhanaan birokrasi, dan debirokratisasi agar aktivitas usaha dapat berjalan lebih lancar.

Untuk perdagangan Selasa (10/3/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan tetap fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.950 – Rp17.000 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Senin, 9 Maret 2026
24o
Kurs