Romauli Nainggolan Pakar Ekonomi dari Fakultas Bisnis dan Manajemen (FBM) Univeristas Ciputra (UC) Surabaya mengatakan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menembus Rp17 ribu, perlu langkah terkoordinasi dari pemerintah dan otoritas moneter untuk merespons kondisi tersebut.
“Langkah yang diambil ini harus berjalan paralel, yaitu otoritas moneter dan otoritas kebijakan fiskal harus berjalan besama-sama,” kata dosen ahli ekonomi makro, mikro dan moneter itu saat dihubungi suarasurabaya.net pada Senin (9/3/2026).
Dari sisi moneter, dia menekankan bahwa Bank Indonesia (BI) perlu melakukan intervensi di pasar keuangan untuk mengurangi volatilitas nilai tukar rupiah.
Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga perlu mengoptimalkan sektor ekspor agar devisa hasil ekspor dapat kembali masuk ke dalam negeri sehingga memperkuat cadangan valuta asing.
“Valuta asing dari hasil ekspor harus dioptimalkan agar kembali ke dalam negeri,” ucapnya.
Sementara dari sisi kebijakan fiskal, ia mendorong pemerintah untuk mulai mempercepat langkah substitusi impor. Khususnya pada sektor energi dan bahan baku industri agar ketergantungan terhadap dolar AS bisa dikurangi.
Romauli juga menekankan bahwa penting bagi pemerintah untuk melakukan efisiensi anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk mengevaluasi belanja yang memiliki komponen impor.
“Belanja komponen impor itu dievaluasi atau dibeli secara bertahap,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengatakan bahwa saat ini pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menghitung ulang kebutuhan belanja negara, dan memastikan ketersediaan ruang fiskal di tengah lonjakan harga energi global.
“Untuk menghitung ulang anggaran, agar ada dana untuk membantu dana subsidi impor minyak,” tuturnya.
Seperti diketahui sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah hingga Rp17 ribu, pada Senin (9/3/2026), seiring dengan meningkatnya geopolitik, sentimen risiko global akibat konflik di Timur Tengah, dan adanya lonjakan harga minyak dunia.
Kondisi tersebut, mencatatkan rekor terendah baru dalam sejarah Indonesia, yakni melampaui level terburuk saat krisis moneter 1998 serta saat masa pandemi Covid-19 yang lalu. (ris/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
