Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (3/2/2026), seiring membaiknya kinerja sektor manufaktur nasional. Rupiah tercatat naik 44 poin atau 0,26 persen ke level Rp16.754 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.798 per dolar AS.
Penguatan rupiah tersebut didorong oleh rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang menunjukkan ekspansi berkelanjutan.
Ibrahim Assuaibi analis pasar uang menilai sentimen positif dari sektor riil memberikan dorongan signifikan bagi pergerakan rupiah.
“S&P Global Market Intelligence mencatat PMI Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026, meningkat dari 51,2 pada Desember 2025. Selama indeks berada di atas level 50, itu menandakan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi,” ujar Ibrahim dilansir dari Antara.
Menurutnya, kenaikan PMI tersebut mencerminkan pertumbuhan yang relatif stabil, terutama ditopang oleh peningkatan output dan permintaan baru dari dalam negeri. Aktivitas produksi juga menunjukkan tren positif seiring meningkatnya kebutuhan pasar domestik.
Ibrahim menjelaskan, data PMI tersebut diperoleh dari survei terhadap sekitar 400 perusahaan manufaktur terpilih. Survei dilakukan pada periode 12 hingga 23 Januari 2026 dengan menyebarkan kuesioner kepada para manajer pembelian.
“Hasil survei menunjukkan banyak perusahaan mengaitkan kenaikan aktivitas dengan permintaan pasar yang lebih kuat, terutama dari dalam negeri,” katanya.
Namun demikian, permintaan internasional masih menunjukkan pelemahan. Selama lima bulan terakhir, permintaan dari luar negeri tercatat menurun, dipengaruhi oleh laporan tarif yang dinilai menghambat aktivitas perdagangan global.
Meski demikian, sejalan dengan pertumbuhan permintaan baru, sektor produksi tetap mencatatkan kinerja positif. Ibrahim menyebutkan, output manufaktur meningkat selama tiga bulan berturut-turut dan menjadi pertumbuhan tercepat kedua dalam 11 bulan terakhir.
S&P Global juga mencatat peningkatan kebutuhan produksi dan kondisi permintaan yang membaik mendorong perusahaan untuk terus menambah pembelian input. Tren tersebut telah berlangsung selama enam bulan berturut-turut, menandakan optimisme pelaku usaha terhadap prospek produksi ke depan.
Selain itu, perusahaan manufaktur dilaporkan mulai meningkatkan persediaan barang, baik pra-produksi maupun pascaproduksi. Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi terhadap kenaikan volume produksi di tengah permintaan yang masih menunjukkan tren naik.
Sejalan dengan penguatan rupiah di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat menguat. Pada perdagangan hari ini, JISDOR berada di level Rp16.777 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.800 per dolar AS. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
