Arab Saudi kembali meningkatkan ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat setelah sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak.
Selain pulihnya aliran minyak Arab Saudi, peningkatan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dalam waktu dekat.
Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak mentah Brent turun 2,6 persen menjadi sekitar 102,59 dolar AS per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 3,5 persen menjadi 89,38 dolar AS per barel.
Bagi rupiah, penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan dari sisi kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi. Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar di tengah pergerakan rupiah yang masih berada di sekitar level Rp18.000 per dolar AS.
Lukman mengatakan penguatan rupiah berpotensi mendapat dukungan tambahan dari langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Menurut dia, bank sentral kembali melakukan intervensi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

NOW ON AIR SSFM 100

