Kamis, 22 Januari 2026

Rupiah Nyaris Rp17.000 per Dolar AS, Legislator Peringatkan BI dan Pemerintah Jangan Lamban

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Hasanudin Wahid anggota Komisi XI DPR RI. Foto: istimewa

Hasanuddin Wahid anggota Komisi XI DPR RI menyoroti serius pelemahan nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level hampir Rp17.000 per dolar AS.

Ia menegaskan, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai fluktuasi normal pasar global semata.

Dia meminta Bank Indonesia (BI) mengambil langkah yang lebih tegas, terukur, dan responsif guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

“Tekanan terhadap rupiah harus direspons dengan kebijakan moneter yang kuat dan terkoordinasi. Bank Indonesia perlu memperkuat stabilisasi nilai tukar, termasuk melalui intervensi pasar valas dan sinergi kebijakan dengan pemerintah,” ujar Cak Udin panggilan akrabnya di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai stabilitas rupiah merupakan fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Selain kebijakan moneter, Cak Udin juga menekankan peran penting kebijakan fiskal dalam menjaga sentimen pasar. Ia mendorong Kementerian Keuangan untuk tetap konsisten menjaga disiplin fiskal, khususnya dalam pengelolaan defisit anggaran dan pembiayaan utang negara.

“Kepercayaan pasar tidak hanya bertumpu pada BI. Kredibilitas fiskal pemerintah juga sangat menentukan. Defisit harus dijaga, utang dikelola secara hati-hati, dan arah kebijakan fiskal tetap jelas serta berkelanjutan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Cak Udin menekankan pentingnya koordinasi yang solid antara otoritas moneter dan fiskal agar respons terhadap tekanan nilai tukar dapat dilakukan secara cepat dan efektif.

Ia juga mendorong pemerintah memperkuat ketahanan sektor eksternal sebagai solusi jangka menengah dan panjang, di antaranya melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, pengendalian impor strategis, serta optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE).

“Kalau sektor eksternal kuat dan pasokan devisa terjaga, rupiah tidak akan terlalu rentan terhadap gejolak global. Ini pekerjaan rumah yang harus diseriusi,” pungkasnya.(faz/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 22 Januari 2026
27o
Kurs