Juda Agung Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 akan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ekspansif, tetapi tetap terukur. APBN tahun depan mengusung tema “Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat”.
Menurut Juda, APBN 2027 akan menjalankan tiga fungsi utama, yakni menumbuhkan perekonomian (to grow), melindungi masyarakat (to protect), dan mendukung transformasi ekonomi (to transform).
“APBN 2027 akan ditempatkan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi dengan tiga fungsi utama, yakni menumbuhkan perekonomian, melindungi masyarakat, dan mendukung transformasi ekonomi,” kata Juda dalam Media Gathering Kementerian Keuangan 2026 yang dikutip Antara, Jumat (2/10/2026).
Fungsi to grow diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan investasi serta mendukung agenda pembangunan prioritas pemerintah. Sementara to protect ditujukan untuk menjaga daya beli, kesejahteraan masyarakat, dan mendorong pemberdayaan ekonomi.
Adapun to transform difokuskan pada penguatan fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui investasi, hilirisasi, dan industrialisasi.
Untuk menopang tiga fungsi itu, pemerintah menyiapkan strategi peningkatan penerimaan negara. Di sektor perpajakan, pemerintah akan memperluas basis pajak melalui pemanfaatan data dan teknologi, mengoptimalkan Coretax dan Compliance Risk Management Integrated Risk Engine, meningkatkan pengawasan wajib pajak strategis dan berisiko tinggi, serta memperkuat penegakan hukum dan insentif perpajakan.
Di sektor bea dan cukai, strategi diarahkan pada pemberantasan perdagangan Barang Kena Cukai (BKC) ilegal, penguatan kebijakan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan bea masuk komoditas tertentu, perluasan basis penerimaan, serta dukungan terhadap ekspor, hilirisasi, dan pertumbuhan wilayah.
Sementara untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), pemerintah akan mengoptimalkan penerimaan dari sektor sumber daya alam melalui perbaikan tata kelola, penguatan Sistem Informasi Mineral dan Batubara (SIMBARA), digitalisasi, serta peningkatan pengawasan dan kepatuhan.
“Ini yang diharapkan menjadi penguatan sumber-sumber penerimaan,” ujar Juda.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah menjaga defisit APBN 2027 pada level 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut juga tercantum dalam APBN 2027 yang telah disahkan.
Strategi pembiayaan akan lebih mengutamakan sumber domestik untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak global. Juda menyebut kepemilikan asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) saat ini sekitar 13–14 persen, jauh lebih rendah dibanding sekitar 40 persen pada satu dekade lalu.
“Strategi utamanya adalah tetap fokus dominannya di pembiayaan dari domestik yang relatif tidak rentan terhadap gejolak global,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga akan mengoptimalkan peran Danantara, Special Mission Vehicle, Badan Layanan Umum, dan Sovereign Wealth Fund, memperluas akses pembiayaan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), serta memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai bantalan menghadapi ketidakpastian. (ant/bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

