Selasa, 16 Agustus 2022

Masa Depan Industri Otomotif Indonesia Dibahas di MTU 2021 Ubaya

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Sesi tanya jawab pada webinar MTU 2021 gelaran Ubaya. Foto: Humas Ubaya

Manufacturing Technology Update (MTU) gelaran Program Studi Teknik Mesin dan Manufaktur Universitas Surabaya (Ubaya) menjadi pembahasan pada gelar webinar Manufacturing Technology Update 2021, mengupas Kendaraan Listrik dan Masa Depan Industri Otomotif Indonesia.

Webinar menghadirkan dua narasumber ternama di bidang otomotif Indonesia yaitu Ir. I Made Dana Tangkas, M.Si., IPU., ASEAN Eng. dan Ricky Elson. Webinar Manufacturing Technology Update 2021 diikuti oleh ratusan peserta yaitu siswa SMA/SMK, mahasiswa, akademisi dan pelaku industri dari berbagai daerah di Indonesia.

Manufacturing Technology Update (MTU) merupakan kegiatan dalam bentuk seminar yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Program Studi Teknik Mesin dan Manufaktur Ubaya. Seminar MTU diadakan untuk memberikan update informasi perkembangan bidang manufaktur bagi generasi muda, akademisi dan pelaku industri. Melalui seminar MTU diharapkan peserta khususnya generasi muda dapat termotivasi menjadi lebih berani serta percaya diri untuk terus berinovasi dan berkreasi, guna meningkatkan daya saing demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia di bidang manufaktur.

Materi Pengembangan Kendaraan Listrik dan Masa Depan Industri Indonesia disampaikan Ir. I Made Dana Tangkas, M.Si., IPU., ASEAN Eng., Chairman Badan Kejuruan Teknik Industri Persatuan Insinyur Indonesia (BKTI-PII), Chairman Komite Tetap ILMAT-KADIN dan President of Institut Otomotif Indonesia (IOI). Founder dan CEO IBIMA yang kerab disapa Made ini membuka materi dengan pemaparan terkait pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) dan percepatan penerapan EV Supply Chain di Indonesia.

Made mengatakan melihat kondisi Indonesia saat ini yang terpenting adalah membangun ekosistem industri otomotif. Perubahan kegiatan otomotif yang berjalan dari Internal Combustion Engine (ICE) hingga paling maju ada Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) harus memberikan keterbukaan atau kesempatan bagi berbagai stakeholder untuk terlibat.

Sehingga pelaku industri tidak hanya lagi bermain dengan prinsipal global seperti Jepang, Korea, Cina, Amerika, Eropa atau India, tetapi juga ada prinsipal lokal yang mempunyai basis manufaktur di Indonesia. Hal ini yang perlu dikembangkan dalam ekosistem otomotif di Indonesia sehingga pasar kendaraan tersebut dapat dipenuhi dari dalam negeri dan nantinya juga bisa diekspor ke berbagai negara.

“Jika bicara pengembangan sektor otomotif berbasis kendaraan listrik, tidak hanya kendaraan roda dua, tiga dan empat. Tetapi termasuk bus, truck, kapal laut, pesawat terbang, drone, dan alat berat, itu ke depannya bisa digerakkan dengan berbasis baterai listrik. Jadi pengembangan kendaraan listrik sangat luas aplikasinya,” terang Made, Senin (26/7/2021).

Advisor Toyota Indonesia ini mengungkapkan jika industri otomotif tetap menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ditambah lagi, bahwa Indonesia mempunyai peluang terbesar di ASEAN yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan EV dan EV Battery Ecosystem.

“Kita lihat bahwa tantangan ke depan sebenarnya ada pada SDM (Sumber Daya Manusia). Dengan adanya era industri 4.0 dan pandemi Covid-19 maka SDM adalah aset terpenting bagi industri. Kita perlu belajar new skills antara lain basic knowledge of internet and technology, software using skill, data reading skill, dan data analyzing skill,” kata Made.

Sementara itu Ricky Elson CEO Lentera Bumi Nusantara menyampaikan materi pembahasan tentang Tantangan Pengembangan Kendaraan Listrik di Indonesia. Ricky Elson menceritakan pengalamannya sebagai pelopor mobil listrik nasional di Indonesia. Ricky Elson yang merancang bangun mobil listrik SELO menjelaskan awal mula dirinya mengerjakan R&D (Research and Development) Electric Motor Technology di Jepang.

Saat pulang ke Indonesia, Ricky Elson memperoleh tantangan dari Dahlan Iskan untuk membuat kendaraan listrik. Akhirnya Ricky Elson bertemu dan meminta ijin Dahlan Iskan untuk membuat mesin mobil listrik 25 Kw terlebih dahulu. Proses pembuatan kendaraan listrik tersebut tidak berjalan mulus.

Ricky Elson mengaku jika dirinya bersama Dahlan Iskan sempat mengalami kecelakaan saat uji coba mobil listrik TUCUXI. Tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangat dirinya bersama tim. Hal itu yang menjadi motivasi untuk membuat SELO electric car meskipun tidak memiliki dana, alat canggih serta profesor yang mendampingi.

“Akhirnya kami desain ulang, cetak body mobil dan diskusi terus menerus kira-kira perbaikan apa yang perlu dilakukan untuk penyempurnaan. Banyak hujatan dan gagasan mobil nasional sudah usang, tapi kami tidak berkecil hati. Kemudian dalam lima bulan kami berhasil mengirimkan SELO dan GENDHIS untuk tampil pada KTT APEC 2013 di Bali. Ini memang tidak dijual, tetapi untuk spirit bahwa kita bisa dan mampu membangkitkan semangat anak-anak muda,” pungkas Ricky Elson.(tok/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Selasa, 16 Agustus 2022
27o
Kurs