Minggu, 4 Januari 2026

HMI Lumajang Demo Peringati 16 Tahun Lengsernya Soeharto

Laporan oleh Sentral FM Lumajang
Bagikan

Memperingati 16 Tahun lengsernya Presiden ke-2 Soeharto tepat pada 21 Mei 1998 dalam peristiwa reformasi kepemimpinan di Republik Indonesia, para aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Lumajang menggelar aksi demo. Aksi yang dibumbui teatrikal, sholat ghaib dan juga pembakaran keranda mayat ini digelar di Perempatan Tugu Adipura Jl. PB Sudirman, Kecamatan Kota Lumajang, Rabu (21/5/2014).

Aksi ini mendapatkan pengamanan ketat aparat Polres Lumajang yang mengerahkan puluhan personel ke lokasi. AKP Sugianto Kasubag Humas Polres Lumajang bilang, pengamanan ini dikerahkan sesuai protap penanganan kegiatan penyampaian aspirasi masyarakat. “Tidak ada yang berlebihan, hanya pengamanan sesuai protap biasa saja. Sebab, adik-adik mahasiswa ini menyampaikan aspirasi dalam bentuk aksi damai,” kata AKP Sugianto.

Dari pantauan Sentral FM, kegiatan demo aktivis HMI Lumajang ini dimulai dengan jalan kaki hingga ke lokasi aksi di Perempatan Tugu Adipura Lumajang. Di sana, mereka langsung membuat barisan berjajar dan sebagian diantaranya memasang banner berisi 6 tuntutan yang menjadi agenda reformasi yang sejauh ini dinilai belum tuntas.

Isi tuntutannya, diantaranya pengungkapan kasus penculikan aktivis ’98, pengungkapan kasus Bank Century, pengungkapan kasus BLBI, pengungkapan kasus Hambalang, pengungkapan kasus cek pelawat Senior BI, penangkapan pelaku korupsi Edi Tansil dan menurunkan Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Abraham Samad.

Khusus untuk tuntutan penurunan Abraham Samad, juru bicara HMI Lumajang Muhammad Rio mengatakan, Ketua KPK ini dinilai telah bermain-main dengan agenda politik hingga mencederai integritas dan netralitasnya sebagai ketua lembaga anti rasuah yang seharusnya tidak berpihak dan tegas.

“Ketua KPK Abraham Samad telah gagal mengemban amanah pemberantasan korupsi di negeri ini. Kedua, Abraham Samad juga telah melakukan tindakan dengan bersedia menjadi Bakal Calon Wakil presiden yang menodai etika penegak hokum korupsi di negeri ini yang seharusnya independent dan bersih dari kepentingan pihak-pihak tertentu,” kata Muhammad Rio.

Selain itu, masih katanya, aktivis HMI Lumajang juga ingin mengingatkan kembali reformasi 1998 dengan lengsernya Soeharto 16 Tahun lalu. Termasuk juga, menitipkan pesan kepada Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan berkontestansi dalam Pemilihan Presiden, bahwa 6 Agenda reformasi belum tuntas sepenuhnya.

“Sehingga harus ada progress kongkrit penuntasan agenda reformasi ini ke depan dan secepatnya. Seluruh tuntutan ini harus segera diselesaikan sebagai agenda perubahan nasional yang tertunda hingga saat ini. Jangan sampai berlarut-larut dan kemudian terlupakan. Untuk itu, aksi kami hari ini merupakan gerakan melawan lupa,” tegasnya.

Tidak hanya itu saja, para aktivis mahasiswa ini menilai bahwa dua paket Calon Presiden dan Wakil Presiden yang saat ini telah mendaftar untuk berkompetisi dalam Pemilihan Presiden mendatang, masing-masing Jokowi-Jusuf Kala dan Prabowo-Hatta Rajasa hanya mempertontontan drama koalisi semata.

Mahasiswa menilai tidak ada agenda kongkrit yang dikedepankan kedua paket calon pemimpin bangsa ini untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) untuk segera diselesaikan demi kepentingan kemakmuran rakyat.

“Selama ini hanya drama koalisi, manuver politik dengan saling gandeng dan lainnya saja yang banyak dipertontonkan kepada publik negeri ini. Namun, apa agenda kongkrit masing-masing calon pemimpin bangsa ini, tidak disampaikan dengan kongkrit. Hanya basa-basi politik semata yang dijual kepada masyarakat. Kita menuntut kepada kedua paket pemimpin negeri ini, untuk segera menyampaikan apa ide dan gagasan politik mereka secara kongkrit hingga masyarakat bisa memilih dengan tepat siapa yang memang memiliki gagasan dan program terbaik untuk bangsa ini,” jlentreh Muhammad Rio.

Setelah menyampaikan beragam orasi tuntutan, aksivis HMI Lumajang kemudian menggelar aksi teatrikal yang mengambbarkan seorang terpidana korupsi dalam kondisi tangan terborgol aparat masih bisa membagi-bagikan lembaran uang. Selanjutnya, mahasiswa pun sholat ghaib dan membakar keranda. Sebelum mengakhiri aksinya, satu-persatu peserta aksi mencium Bendera Merah Putih yang dikibarkan di sana. (her/ipg)

Teks Foto :
– Aksi demo aktivis HMI Lumajang di Tugu Adipura.
Foto : Sentral FM

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Minggu, 4 Januari 2026
25o
Kurs