Kamis, 1 Januari 2026

Krisis BBM di Lumajang, Perekonomian Masyarakat Terganggu

Laporan oleh Sentral FM Lumajang
Bagikan

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) akibat minimnya distribusi dari Pertamina hingga hari ini, Jumat (29/8/2014), sangat dikeluhkan masyarakat Kabupaten Lumajang. Pasalnya, krisis BBM ini telah menganggu roda perekonomian masyarakat dalam berbagai sektor. Di antaranya sektor perdagangan dan berbagai sektor lainnya.

Hariyadi (41), warga Desa Kunir Lor, Kecamatan Kunir yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang di pasar desanya kepada Sentral FM mengatakan, untuk pekerjaannya yang harus kulakan dagangan berupa sembako dan sayuran dari Pasar Baru Lumajang menuju tempat dagangannya di Pasar Kunir, harus ditempuh dengan kendaraan pick up.

“Kendaraan saya saat ini praktis tidak bisa jalan. Kulakan dagangan saya juga terbengkalai. Intinya, sejak krisis BBM ini, usaha dagangan saya terganggu Mas. Seharusnya dinihari bisa kulakan ke Pasar Baru Lumajang, namun waktunya habis untuk antre BBM. Setelah dapat BBM, keburu pagi dan dagangan juga sudah habis,” katanya.

Sedangkan Syamsuddin (37), pedagang kelapa muda asal Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh ketika ditemui saat antre BBM di SPBU Bagusari di Jl. Mahakam, Kelurahan Jogoyudan, Kecamatan Kota Lumajang mengatakan, akibat krisis BBM ini pekerjaannya yang harus mengantarkan dagangan kelapa muda ke para pelanggannya yang rata-rata adalah penjual es degan di berbagai tempat, tidak bisa dilakukan.

Alasannya, ia yang juga menggunakan Pikup ini hanya dibatasi pembelian BBM Rp. 100 ribu saja. “Untuk BBM segitu, kalau digunakan ke kebun mengambil kelapa muda lalu mengantar dari Desa Pandanwangi menuju Kota Lumajang dan berbagai tempat lainnya lalu kembali ke Desa jelas tidak mencukupi. Untuk itu, saya membatasi pengiriman dan waktu juga habisnya untuk antre BBM seperti ini,” ungkap Syamsuddin.

Lain lagi dengan yang disampaikan Ny. Rohmah, pedagang BBM eceran asal Senduro yang menyampaikan, bahwa dirinya saat ini kesulitan untuk berdagang karena pembelian dengan jeriken sudah tidak dilayani lagi di banyak SPBU. “Saat ini, saya seperti berburu ke berbagai SPBU untuk membeli BBM dengan jeriken. Saya membawa tiga jeriken yang saya angkut dengan motor,” kata perempuan berjilbab ini.

Ia menyayangkan, jika kemudian SPBU melarang pembelian dengan jeriken, karena Ny. Rohmah mengaku kartu langganan. “Kalau saya tidak dilayani, jelas tidak ada pekerjaan lagi. Saya jualan eceran juga untuk menyambung hidup. Mencari untung,” ujarnya.

Diakui oleh Ny. Rohmah, di saat krisis seperti ini, penjualan BBM memang berlipat-lipat harganya. Saat ini, ia menjual premium maupun solar dengan ukuran kurang dari satu liter dengan harga Rp. 10 ribu. Sedangkan untuk pertamax dengan harga beli Rp11.500 ia jual lagi Rp. 15 ribu. “Di Lumajang ini yang langka tidak hanya Premium dan Solar saja. Pertamax juga langka,” demikian ungkap Ny. Rohmah. (her/ipg)

Teks Foto :
– Antrean pembelian BBM dengan jeriken di SPBU Lumajang.
Foto : Sentral FM

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Kamis, 1 Januari 2026
32o
Kurs