Selasa, 13 Januari 2026

Tanggap Dini Bencana, Lumajang Butuh 50 Alat Detektor Longsor

Laporan oleh Sentral FM Lumajang
Bagikan

Kabupaten Lumajang memiliki 8 wilayah Kecamatan yang rawan terjadi bencana longsor. Diantaranya, Kecamatan Randuagung, Ranuyoso, Gucialit, Klakah, Senduro, Candipuro, Pronojiwo dan Tempursari. Di kedelapan wilayah ini, terdapat 50 titik rawan longsor yang telah dipetakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang.

Drs Hendro Wahyono Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang ketika dikonfirmasi Sentral FM, Rabu (12/2/2014), mengatakan bahwa 50 titik rawan longsor itu didominasi tebing.

“Wilayah-wilayah yang bertebing-tebing yang tersebar di 50 titik itu yang rawan longsor. Ini kita petakan sebagai wilayah yang patut mendapatkan perhatian serius,” kata Hendro Wahyono.

Ke-50 titik rawan longsor itu, menurutnya, seharusnya dipasang alat pendeteksi berupa EWS (Early Warning System) untuk memantau adanya pergerakan tanah atau longsor yang terjadi. Namun, BPBD Kabupaten Lumajang saat ini hanya memiliki dan telah memasang 3 unit EWS saja.

Bahkan, ketiga EWS itu merupakan bantuan dari Dinas ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral) Provinsi Jatim. Ketiga unit alat EWS longsor ini, dipasang oleh Dinas ESDM Provinsi Jatim di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo dan Desa Kaliuling, Kecamatan Tempursari.

Ketiga wilayah ini dipasang alat EWS, karena telah dipilih oleh Dinas ESDM Provinsi Jatim sesuai data yang telah diberikan oleh BPBD Kabupaten Lumajang. “Sebelumnya Dinas ESDM Provinsi Jatim meminta kita mengirimkan data titik rawan longsor. Kemudian dipilih untuk dipasang di ketiga titik teesebut,” papar Hendro Wahyono.

Pertimbangannya, masih katanya, ketiga wilayah ini menjadi prioritas karena potensi longsoran langsung mengarah ke pemukiman warga. “Hingga, pemasangan EWS ini dengan tujuan untuk menjamin keselamatan jiwa masyarakat di sana,” sambungnya.

Sementara itu, dalam pemasangan alat EWS longsor ini, Dinas ESDM Provinsi Jatim yang mengirimkan tehnisi dan alatnya. BPBD Kabupaten Lumajang hanya mendampingi di lokasi yang telah ditentukan.

Termasuk juga, alat pemantau visual berupa LCD yang dipasang di Ruang Pusdalops PB (Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana) di Kantor BPBD Kabupaten Lumajang.

Dari LCD menunjukkan format pemantauan longsor dengan indikator yang bisa menunjukkan terjadinya gerakan tanah dan longsor yang terjadi di ketiga titik yang dipasang alat EWS longsor.

Sedangkan di pemukiman warga yang berada di titik rawan longsor, juga dipasang sirine sebagai penanda terjadi gerakan tanah atau longsor. Jadi, ketika terjadi gerakan atau getaran tanah, maka alat pendeteksi yang dipasang akan mengirimkan sinyal ke pemantau di Kantor BPBD Kabupaten Lumajang.

“Selanjutnya, akan terkoneksi dengan sirine EWS yang ada di pemukiman warga. Sehingga warga yang lokasinya rawan terdampak longsoran bisa segera melakukan tindakan penyelamatan diri,” jlentrehnya.

Adanya alat pendeteksi longsor ini menambah sarana dan prasarana untuk penanggulangan bencana yang dimiliki BPBD Kabupaten Lumajang. Dimana, sebelumnya telah dimiliki alat pendeteksi gempa. “Dengan adanya alat ini, upaya tanggap dini bisa dipercepat. Meski, khusus untuk pengadaan alat EWS longsor ini masih kurang banyak karena kit abutuh 50 unit,” pungkas Hendro Wahyono. (her/rst)

Teks Foto :
– Drs Hendro Wahyono Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang menunjukkan alat pendeteksi EWS (Early Warning System) longsor di Ruang Pusdalops PB (Penanggulangan Bencana) di Kantor BPBD Kabupaten Lumajang.

Foto : Sentral FM.

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 13 Januari 2026
28o
Kurs