Minggu, 17 Oktober 2021

DapurSS: Errol Jonathans Tinggalkan Kemapanan, Besarkan Suara Surabaya yang Masih Belia

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media. Foto : Suara Surabaya

Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media dalam PodcastSS Season 3 Episode 5 menceritakan awal mula dia bergabung ke Radio Suara Surabaya.

Errol bercerita waktu keputusannya bergabung dengan SS hanya dalam waktu semalam.

Saat itu dia diminta tolong mengantar mantan pacarnya yang sekarang jadi istrinya, Nunung Jonathans, yang ingin bertemu dengan alm. Soetojo Soekomiharjo pendiri Radio Suara Surabaya untuk keperluan penjualan buku.

Malam itu, Errol dan Nunung muda menuju rumah di daerah Kampung Malang. Keduanya kemudian diterima oleh Endang, istri alm. Soetojo, yang kemudian mengatakan suaminya sedang tidak di rumah.

“Mas Toyo lagi di studio, di radio di Wonokitri Besar,” kata Errol mengenang percakapannya dengan Endang malam itu.

Kedua sejoli ini kemudian bergegas menuju Wonokitri Besar, studio SS berada. Belum tiba di lokasi, motor yang dikendarai keduanya mogok di tanjakan. Memang, studio SS di Wonokitri Besar kerap disebut pula sebagai ‘bukit’ karena letaknya yang tinggi.

“Begitu mogok, temen-temen dari SS keluar, bantuin. Kemudian dari situ saya ketemu sama Mas Toyo,” selorohnya.

Dalam kunjungannya waktu itu dia belum mengenal SS. Karena pada era itu, di tahun ’80an, yang terkenal adalah radio dengan frekuensi AM. Sedangkan usia SS baru tiga bulan setelah mengudara pertama kali di tahun 1983.

Singkat cerita, dia bercengkrama dan bertukar gagasan dengan alm. Soetojo. Errol tertarik dengan gagasan Toyo waktu itu tentang Suara Surabaya.

“Saya tanya mau dijadikan apa radio ini? Mas Toyo jawab yang kayak media massa, yang bisa berinformasi, yang ada beritanya. Enggak seperti radio waktu itu yang populer dengan unsur hiburan,” kata Errol.

Errol yang waktu itu kuliah di AWS (Akademi Wartawan Surabaya) kemudian menjawab, gagasan yang dimaksud adalah jurnalisme.

Ia pun juga sempat melihat daftar program siaran yang sudah disusun. Di situ tertulis salah satunya adalah Kelana Kota. Ia kemudian menanyakan kepada alm. Soetojo apakah Kelana Kota yang dimaksud adalah berkeliling kota ‘memungut’ informasi lalu diberitakan. Saat alm. Soetojo mengiyakan, Errol dengan mantap menjawab itu adalah jurnalisme, khususnya radio.

Usai obrolan tersebut, Errol ditodong pertanyaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Setelah ngobrol tiba-tiba Mas Toyo tanya. Bisa gabung di SS? Saya bilang saya sudah kerja di Pos Kota,” kenangnya.

Tak mau kalah, alm. Soetojo kemudian menanyainya lagi, “Jam lowong anda jam berapa di Pos Kota?”

Errol menjawab bila pukul 08.00-18.00 ia harus ada di kantor untuk menyusun berita.

“Ya sudah anda datang di antara jam itu,” jawab alm. Soetojo.

Pernyataan itu disusul dengan jawaban dari Errol yang menanyakan kapan ia mulai bekerja. Dan dijawab oleh sang pendiri SS dengan, “besok.”

Sejak saat itulah hari-hari Errol Jonathans berubah. Pada pukul 08.00-18.00 dia di Pos Kota. Paginya, pukul 06.00-08.00 dia siaran, lanjut malamnya pukul 18.00-24.00 kembali ke SS.

Kehidupan itu bertahan hanya sekitar tiga tahun, mulai tahun 1983 sampai 1986. Kemudian ia memutuskan untuk berkonsentrasi di Radio Suara Surabaya.

Saat menjadi wartawan di Pos Kota, Errol juga menjadi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim. Kehidupan yang mapan, kata Errol. Posisinya di media cetak sudah cukup kuat. Kemudian ia meninggalkan kemapanan itu dan memilih berjuang membesarkan SS yang masih sangat belia.

“Saya waktu itu berpikir untuk media cetak sepertinya udah selesai. Media cetak udah mapan. Di radio saya punya feeling jurnalisme radio belum bekembang di Indonesia. SS jadi lahan awal mengembangkan jurnalisme radio,” terangnya.

Berbekal pengalamannya sebagai reporter di Pos Kota, menjadi modal utamanya meramu siaran jurnalisme radio. Bagaimana mengalihkan karakter cetak menjadi karakter radio.

Berkat kegigihannya, pada tahun berikutnya Errol bekerja di SS, dia mendapat tawaran jadi kepala bagian siaran. Padahal waktu itu ia termasuk penyiar yang baru bergabung dibanding sejawat penyiar pendahulunya.

Selama dua tahun pertama SS berdiri, Errol bercerita, tidak ada iklan yang masuk. Dan itu menjadi kehebatan para penyiar SS waktu itu.

“Itu kehebatannya kita semua. Kita bisa mengabdikan diri pada siaran. Kebetulan penyiar saat itu tidak terdesak saat gaji tidak lancar, kita sama-sama berpikir bagaimana caranya besarin (membesarkan) SS,” katanya.(dfn/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Minggu, 17 Oktober 2021
29o
Kurs