Sebanyak 35 siswa SMP Citra Berkat dan SMA Ciputra Kasih yang tergabung dalam ekstrakurikuler public speaking, melakukan kunjungan ke Suara Surabaya Media pada Jumat (10/4/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda fieldtrip dalam rangkaian kegiatan ekstrakurikuler.
Canggih, guru pendamping rombongan mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan pengalaman belajar berbicara di luar lingkungan sekolah.
Ia menjelaskan, pihaknya memilih Radio Suara Surabaya sebagai tujuan kunjungan karena dinilai sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa.
“Karena kalau radio station itu lebih fokus ngomongnya. Meskipun mungkin konsep dari radio itu sebenarnya lebih ke indoor. Tapi anak-anak memang maunya untuk belajar speaking, tapi untuk ke public secara outdoor itu mungkin belum terlalu ready. Jadi kita coba dari step yang kecil dulu, ke indoor dulu, dan radio station yang kepikiran,” jelasnya kepada suarasurabaya.net.

Selama kunjungan, kegiatan diawali dengan kelas public speaking bersama Nuryadi Manajer Business and Development Suara Surabaya. Materi yang diberikan selaras dengan pembelajaran yang diterima siswa di sekolah.
Dalam sesi tersebut, siswa mempelajari teknik berbicara di depan umum, cara mengatasi rasa gugup, hingga praktik langsung. Setelah itu, para siswa diajak berkeliling kantor Suara Surabaya Media. Mereka dikenalkan dengan berbagai divisi, mulai dari desain grafis, new media, hingga gatekeeper dan penyiaran.

Tak hanya itu, beberapa siswa juga berkesempatan mengudara di Radio Suara Surabaya bersama Ananda Maharani penyiar. Shaul Zave, siswa kelas 7 SMP Citra Berkat, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut.
” Yang kita tahu Suara Surabaya itu kan berarti kita dengernya di radio dan tadi setelah keliling-keliling, akhirnya kita tahu kan ada editornya, terus ada untuk promosi, proposal, terus akhirnya banyak juga bagian-bagiannya,” ungkap siswa kelas 7 itu.
Hal serupa juga disampaikan Melisa Chandra, siswi SMA Ciputra Kasih. Ia mengaku jadi lebih memahami mekanisme penyiaran di Radio Suara Surabaya.
“Saya pernah kejadian Ada tabrakan di jalan dan mereka (Radio SS) langsung menyebutkannya. Jadi saya bingung, ‘loh, kok bisa mereka langsung tahu gitu?’ Nah, setelah dijelasin oleh kakak-kakak pendampingnya, saya lebih tahu, ternyata disini ada orang yang mengirimnya, dan saya juga tahu disini ada videografernya, terus ada juga yang menyiarkan informasinya disini,” ucapnya saat mengudara di Radio SS.
Sementara itu, Darma Langga, guru pendamping SMA Ciputra Kasih, mengatakan kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran tentang peran media sejak dahulu.
“Radio itu kan salah satu media yang digunakan pahlawan nasional sejak dulu juga kan. Terutama waktu Sutan Sjahrir dengar berita kekalahannya Jepang pada saat itu. Itu kan sebuah hal yang harus kita kesarikan, dan mungkin dari anak-anak ini bisa belajar dari hal ini,” ucapnya kepada Suara Surabaya FM 100.
Melalui kegiatan ini, Canggih berharap para siswa semakin percaya diri dalam berbicara di depan umum.
“Harapannya tentunya mereka jadi lebih berani untuk public speaking, soalnya kadang itu anak-anak ini sebenarnya suka speak-nya, suka ngomongnya. Cuma untuk ke public—nggak usah ke public deh, ke keluarga saja—kadang itu mereka kesusahan ngomong. Mungkin ya itu kayak concern saya ke anak-anak Indonesia pada umumnya,” tutupnya.(ily/bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
