Minggu, 14 Agustus 2022

10 Kasus Bullying di Medsos Berakhir Kematian

Laporan oleh Desy Kurnia
Bagikan

Belakangan ini kasus-kasus bullying tak hanya terjadi pada dunia nyata saja, namun juga terjadi di dunia maya. Dimana bullying yang diberikan tak hanya berupa kekerasaan fisik namun juga kekerasan verbal.

Bahkan sebagian korban bullying yang merupakan anak-anak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena merasa tersiksa batin. Berikut 10 Kasus Bunuh Diri melalui Media Sosial:

1. Rahtaeh Parsons

Bagi seorang gadis, mengalami pelecehan seksual saja sudah merupakan bencana yang sulit dihadapi. Apa jadinya bila setelah mengalami hal tersebut, ia malah ‘disiksa’ di media sosial?

Rehtaeh Parsons (17), siswa asal Nova Scotia, akhirnya memutuskan mengakhiri hidup pada April 2013 setelah berbulan-bulan menjadi target bullying. Sebelumnya, sebuah foto yang menunjukkan perkosaan yang dialaminya beredar di sekolah.

Menurut sang ibu, 4 laki-laki memperkosa Rehtaeh saat ia berusia 15 tahun. Sejak saat itu, ia menjadi bahan bulan-bulanan teman-temannya. Ia diejek teman-teman sekelas, dipermalukan secara verbal dan fisik, serta dibully di sosial media.

2.Carlos Vigil

Selama tiga tahun, remaja yang tinggal di Valencia County, New Mexico, Amerika Serikat, ini diejek kawan-kawannya hanya karena berjerawat dan memakai kacamata. Bahkan, dia dianggap seorang gay.

Ray Virgil, sang ayah, sangat geram mendengar anaknya diperlakukan seperti ini, sehingga mendesak pemerintah setempat segera mengeluarkan peraturan tentang sanksi pidana terhadap para pelaku bullying.

Pada tanggal 13 Juli 2013, karena benar-benar tak tahan diintimidasi terus-menerus, Carlos menulis dan memposting surat bunuh diri melalui akun Twitter.

Di postingan twitternya, Carlos justru minta maaf kepada teman-temannya yang bertahun-tahun menyakitinya. “Saya adalah orang yang tak memperoleh ketidakadilan di dunia ini, dan sudah waktunya bagi saya untuk meninggalkan dunia ini,” tulisnya.

Carlos juga meminta teman-temannya untuk tidak menangisi keputusannya. Dia justru minta maaf karena tidak mampu mencintai seseorang, atau membuat seseseorang mencintainya.

“Teman-teman di sekolah benar. Saya seorang pecundang, aneh, homo, dan sama sekali tidak dapat diterima orang lain. Saya minta maaf, karena tidak mampu membuat seseorang bangga. Aku bebas sekarang. Xoxo,” kata Carlos mengakhiri suratnya.

3. Hannah Smith

Hannah Smith, bunuh diri Agustus 2013 lalu. Menurut sang ayah, Hannah memutuskan untuk mengakhiri hidup setelah mendapat banyak pesan-pesan kejam di internet lewat Ask.fm. Meskipun demikian, pihak Ask.fm. menyatakan bahwa pesan-pesan kejam tersebut rata-rata dikirim melalui IP yang sama, yakni dari komputer yang biasa digunakan Hannah sendiri.

Lalu, apakah Hannah Smith ‘mem-bully’ dirinya sendiri? Sang ayah tak percaya pada keterangan pihak Ask.fm, dan hingga artikel ini dibuat, kasus masih terus bergulir.

Meskipun demikian, seorang remaja laki-laki dilaporkan setelah polisi melacaknya dengan dugaan bullying pada Hannah. Ia akhirnya ketahuan setelah mengakui perbuatannya sendiri lewat aplikasi mobile lain, Kik. Ia menulis, “Kau tahu, perempuan yang sekarang ada di semua berita, s**t… hannah!? Sehari sebelum ia meninggal, aku mengirim banyak pesan kejam agar ia menderita cancer, bunuh diri, dan sebagainya. Aku tak terpikir akan jadi separah ini.”

4. Amanda Todd

Kasus online bullying yang paling menggemparkan Kanada adalah kematian tragis Amanda Todd. Amanda Todd adalah siswa kelas 10 di British Columbia. I menggantung diri tiga tahun setelah ia ‘diyakinkan’ untuk tampil topless di sebuah video chat. Seseorang yang tak dikenal merekam isi chat tersebut dan meneror Todd dengan foto-foto toplessnya.

Teror tersebut akhirnya menyebabkan Todd cemas dan depresi.Sekitar sebulan sebelum ia bunuh diri, Todd memposting sebuah video dengan judul My Story: Struggling, bullying, suicide and self harm. Dalam klip tersebut, Todd menunjukkan kekerasan yang ia alami baik secara online maupun offline. Video tersebut kini mendapat perhatian dari publik internasional.

5. Jade Stringer

Gadis yang berusia 14 tahun ini dikenal sebagai salah satu siswi paling cantik di sekolahnya, Haslingden High School di Lancashire, Inggris. Bukan hanya itu, dia juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sekolah. Jade juga aktif mengkampanyekan gerakan anti-bullying di sekolahnya.

Ada yang salah? Mestinya, tiga kelebihan di atas membuat seseorang merasa bangga, karena orang lain pun pasti menginginkannya.

Tapi justru karena kecantikan, aktivitas, dan kampanye anti-bullying inilah yang membuat beberapa temannya iri dan tidak suka terhadap Jade. Dia terus-menerus diteror kawan-kawannya, dan hal itu membuat Jade tak tahan lagi.

Akhir cerita mirip dengan Carlos Vigil. Ya, Jade akhirnya ditemukan tewas gantung diri, karena sudah tak sanggup lagi menahan ejekan dan hinaan dari teman-temannya di sekolah.

6. Yoga Cahyadi

Pria asal Yogyakarta ini melakukan tindakan nekat dengan menabrakkan diri ke kereta api pada Sabtu 26 Mei 2013. Pria yang akrab disapa Bobby Kebo ini melakukan tindakan nekat tersebut karena karena tekanan dan hujatan akibat gagalnya acara musik Locstock Fest 2.

Sebagai ketua Event Organizer acara tersebut, Yoga dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas gagalnya acara tersebut. Dalam kicauan terakhirnya, Yoga menuliskan, “Trimakasih atas sgala caci maki @locstockfest2..ini gerakan..gerakan menuju Tuhan..salam”.

Cyberbullying tidak dapat dianggap remeh karena yang terburuk dapat berujung pada kematian. Harus berapa banyak lagi korban yang harus jatuh untuk dapat menghapus sisi hitam sosial media ini

7. Izzi Dix

Sebelum bunuh diri, Izzi Dix (14 tahun) menulis puisi berisi curhatnya ketika di-bully teman-teman sekolahnya.

Setelah dia meninggal, puisinya sengaja disebarluaskan Gabbie Dixx, ibunya, agar tak ada lagi orang-orang yang melakukan praktik bullying, karena dampaknya memang sangat buruk bagi korban.

“Mungkin banyak yang tidak suka dengan puisi ini. Tetapi inilah yang ada di fikiran putriku sebelum bunuh dini. Aku ingin semua remaja lebih berpikir tentang bahaya bullying sebelum dia melakukan tindakan itu,” ujar Gabbie.

Puisi ini ditulis Izzi setelah dia datang ke pesta yang dilakukan teman-temannya, dan dia mendapat perlakuan yang sangat buruk. Begini puisinya :

They push me away. I stand still. My eyes glazed and absent.
They start to ask questions, As to why I am there.
They begin to tell me that nobody wants me there.
They tell me to leave and that I am not wanted.
Not there, not anywhere
(Mereka memaksaku pergi. Aku berdiri dalam diam. Mataku berkaca-kaca, hening.
Mereka bertanya, mengapa aku di sana.
Mereka memberitahuku, tak seorangpun menginginkanku di sana.
Mereka memberitahuku agar segera enyah, tetapi aku tak ingin.
Tak ada, tidak di mana saja.)

8. Rebecca Ann Sedwick

Selama hampir 2 tahun, sekitar 15 perempuan berkonspirasi melakukan bullying pada Rebecca Ann Sedwick. Gadis berusia 12 tahun ini diteror pesan-pesan online seperti “Kau harus mati,” dan “Kenapa kau tak bunuh diri saja?”

Rebecca akhirnya tak dapat menanggung teror tersebut, dan mengganti salah satu display name-nya menjadi That Dead Girl. Ia mengirim pesan pada seorang laki-laki di North Carolina, “Aku lompat.” Lalu pada suatu Senin pada September 2013, Rebecca pergi ke sebuah tempat konstruksi yang terabaikan, memanjat towernya, lalu lompat dan mengakhiri hidupnya.

9. Josh Unsworth

Josh Unsworth, remaja berusia 15 tahun, tewas gantung diri di taman rumahnya. Ternyata ia telah berbulan-bulan menanggung bullying verbal di profil ask.fm-nya.

Menurut orang tuanya, Josh sebenarnya adalah anak yang sering tersenyum dan ramah di sekolah. Namun berbagai posting buruk ditulis di untuk Ask.fm-nya. Salah satunya mengatakan, “Sejujurnya, tak ada yang peduli padamu, bahkan orang tuamu tak menginginkanmu.”

Bullying tersebut berlanjut hingga berbulan-bulan, hingga akhirnya remaja ini tak sanggup menghadapinya lagi.

10. . Daniel Perry

Daniel Perry seharusnya akan merayakan ulang tahun ke 18 tahun ini. Namun Agustus lalu ia bunuh diri setelah menjadi korban teror online. Daniel dijebak. Awalnya ia terlibat percakapan di Skype dengan seseorang yang ia percaya adalah perempuan seusianya.

Namun kemudian, sebuah gang menyabotase percakapan tersebut, dan mengancam akan menunjukkan video percakapan tersebut pada keluarga dan teman-temannya, jika Daniel tak membayar mereka. Tak hanya itu, Daniel pun diteror di berbagai akun media sosialnya.

Akhirnya Daniel pergi ke jembatan Forth Road dan menjatuhkan diri, dan ia pun tewas. Keluarga pun menangisi kepergian Daniel. Seandainya mereka mengetahui hal ini lebih awal, mereka tak akan membiarkan Daniel bunuh diri.(all/nin/ain/ipg)

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Minggu, 14 Agustus 2022
31o
Kurs