Rabu, 1 Februari 2023
Menyatukan Perbedaan Awal Puasa dan Lebaran

Agar Mengintip Hilal Jadi Masuk Akal

Laporan oleh Fatkhurohman Taufik
Bagikan

Tanggal 26-28 April akan jadi hari bersejarah bagi umat Islam di Indonesia. Perbedaan mendasar antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dalam menentukan awal puasa dan lebaran akan coba disatukan.

Adalah Agus Mustofa, jurnalis sekaligus penulis buku “jangan asal ikutan Hisab dan Rukyat“, akan mengundang dua tokoh yang selama ini terbelah dalam menetapkan awal lebaran. NU akan menghadirkan ketuanya langsung yaitu Prof. Dr Said Aqil Siradj; begitupun Muhammadiyah akan dihadiri langsung Prof. Dr Din Syamsuddin, sang ketua umumnya.

Ditemui di rumah sekaligus kantornya yang ada di Jl Raya Taman Indah No 9-11 Surabaya, Agus menjelaskan, sebuah piagam kesepahaman di antara dua ormas dalam memahami penetapan bulan baru, juga akan ditandatangani dalam acara yang akan digelar di JX International Convention Hall Surabaya itu.

Kesepahaman bersama yang akan dibangun, tentu bukanlah cek kosong. Agus telah menawarkan sebuah metode yang diyakini akan mampu menjembatani dua perbedaan mendasar ini.

Sarjana Teknik Nuklir UGM ini bahkan sengaja mendatangkan Thierry Legault, astrofotografer asal Perancis untuk menjadi pembicara sekaligus meyakinkan adanya sebuah metode modern yang mampu menjembatani perbedaan antara hasil hisab dan rukyat.

Hisab adalah menghitung pergantian bulan (kalender) yang biasa digunakan oleh Muhammadiyah. Sedangkan rukyat adalah melihat, atau dengan kata lain melihat secara langsung penampakan hilal (bulan sabit muda pertama yang bisa dilihat) sebagai pertanda pergantian bulan.

Thierry Legault, merupakan astrofotografer yang dikenal mampu memotret hilal ramadhan yang sangat tipis. Kejeniusannya bahkan mengantarkan nama Thierry Legault menerima sebuah penghargaan “Marius Jacquemetton” dari Societe Astronomique de France. Bahkan namanya kini diabadikan sebagai nama asteroid 19458, seperti yang juga dimiliki Ibnu Rusyd (Averroes).

Di Surabaya, Thoerry Legault, akan menularkan ilmunya bagi para ahli hisab dan rukyat dari beragam lembaga sehingga penentuan awal ramadhan tahun ini tidak lagi terjadi kontroversi. “Mudah-mudahan bisa disatukan karena sebenarnya ada cara untuk menyatukannya,” kata Agus.

Penyatuan perbedaan antara hisab dan rukyat ini bisa dilakukan karena kini ada beberapa teleskop canggih yang dengan triks tertentu mampu melihat hilal, meskipun dalam posisi yang cukup tipis (derajat yang kecil).

Untuk keperluan workshop inipula, pengarang 48 buku serial diskusi tasawuf modern ini, bahkan telah mendatangkan sebanyak empat set peralatan astrofotografi yang terdiri dari teleskop, kamera, mounting, GPS, filter serta inframerah.

“Saya membeli satu set seharga Rp105 juta,” kata Agus. Uang untuk membeli merupakan sumbangan dari para donatur yang peduli pada upaya penyelesaian kontrofersi penentuan awal puasa dan lebaran.

Agus sedianya akan mendatangkan sebanyak 20 peralatan ini yang kelak akan dipasang di beberapa titik di Indonesia. Tujuannya, adalah untuk menyatukan perbedaan antara Hisab ala Muhammadiyah serta Rukyat ala Nahdlatul Ulama.

Secara sederhana, perbedaan dalam menentukan awal puasa dan lebaran ala NU dan Muhammadiyah, adalah NU menggunakan patokan rukyatul hilal atau melihat hilal. Bagi warga NU, awal bulan harus ditandai dengan penampakan hilal; sedangkan Muhammadiyah cukup dengan melakukan penghitungan atau hisab yang bisa dihitung sebelumnya, bahkan ratusan tahun sebelumnya (karena pada hakikatnya, orbit atau perputaran bulan bisa dihitung).

Padahal, hilal sesuai imkanur rukyat ala Mabims (kesepakatan negara Asia Tenggara) setidaknya baru bisa terlihat jika sudah berumur 8 jam selepas ijtimak (penampakan bulan baru) muncul, dan memiliki ketinggian 2 derajat. Bahkan kriteria ala Danjon menyebutkan hilal baru terlihat jika memiliki ketinggian 7 derajat.

Di sisi lain, hisab ala Muhammadiyah meyakini berapapun derajatnya, bahkan meskipun tak sampai 1 derajat diyakini sudah wujudul hilal (hilal sudah nampak). Inilah yang menjadikan antara NU dan Muhammadiyah sulit untuk disatukan.

Dengan menggunakan peralatan astrofotografi, maka sekecil apapun derajat hilal akan bisa terlihat. Artinya umat NU bisa meyakininya karena bisa melihat hilal melalui astrofotografi, sedangkan umat Muhammadiyah juga tetap yakin karena menurut hitungan (hisab) memang sudah wujud (nampak).

Sebuah metode yang diberinama Rukyat Qoblal Ghurub atau rukyat sebelum magrib inilah yang diyakini mampu menjembatani dua perbedaan mendasar antara NU dan Muhammadiyah. Rukyat metode Agus inipun tidak harus menunggu waktu Magrib untuk mengintip bulan. Bahkan tak perlu lagi menunggu umur bulan mencapai 8 jam. Satu jam sebelum ijtimak dan satu jam setelah ijtimak wujud hilal akan terekam dengan sempurna melalui astrofotografi.

“Hasil rekaman ini untuk meyakinkan bahwa hilal sudah ada dan terekam sehingga penentuan awal puasa dan lebaran bisa dipahami dengan jernih,” ujarnya. Tak hanya awal puasa dan lebaran, metode ini juga bisa digunakan untuk menentukan awal penanggalan lainnya. (fik)

Teks Foto :
– Agus Mustofa mencoba sebuah astrofotografi
Foto : untuk suarasurabaya.net

Berita Terkait