Minggu, 14 Agustus 2022

Nasionalisme Solusi Hadapi MEA

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan

Mahyudin Wakil Ketua MPR mengemukakan, salah satu cara bangsa ini menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah meningkatkan rasa nasionalisme Indonesia, agar Indonesia tidak semata menjadi pasar bagi negara lain.

“Kita bangkitkan kebanggaan pada Tanah Air. Buat diri kita bangga terhadap Indonesia. Kalau nasionalisme itu tidak ditumbuhkan, Indonesia hanya menjadi pasar bagi negara lain,” kata Mahyudin, dalam keterangan tertulis yang dilansir Antara, di Jakarta, Selasa (22/9/2015).

Mahyudin mencemaskan Republik Indonesia dengan populasi sekitar 250 juta orang hanya menjadi pasar negara lain ketika MEA diberlakukan pada akhir 2015.

Dia juga mengingatkan, jumlah penduduk di Malaysia dan Singapura tidak sebesar Indonesia sehingga dicemaskan negara berpenduduk besar menjadi pasar potensial bagi negara lain.

Pula, Indonesia juga defisit perdagangan dengan negara berpenduduk terbesar di dunia.

Untuk itu, ujar Mahyudin, dalam menghadapi pemberlakuan MEA diperlukan pendalaman ideologi Pancasila sehingga juga dapat memiliki tingkat nasionalisme yang kuat.

Sebagaimana diberitakan, sudah seharusnya Indonesia sebagai negara populasi terbesar keempat di dunia jangan hanya berbangga diri dengan jumlah penduduk yang banyak sehingga hanya menjadi pasar bagi produk dari negara lain.

Puja-puji tentang kebesaran negara Indonesia kerap dilontarkan petinggi negara lain dan investor mancanegara tentang kebesaran pasar Indonesia ini. Indonesia jangan silau dan berbangga diri berlebihan atas puja-puji itu.

Biasanya, diikuti dengan penyataan tentang ukuran tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, yang secara fakta angka itu sering lebih tinggi dari rata-rata Eropa, Amerika Serikat, dan dunia.

“Indonesia penting meningkatkan kemampuan bersaing dengan negara-negara ASEAN, di antaranya Thailand dan Malaysia, yang sudah sangat agresif mempersiapkan diri memanfaatkan peluang MEA 2015,” kata Achmad Poernomo, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta, Minggu (9/8).

Jika tidak, menurut dia, Indonesia hanya akan menjadi pasar sasaran serbuan barang dan jasa dari negara lain sehingga akan membuat Indonesia menjadi negara konsumtif.

Peningkatan daya saing nasional, lanjutnya, sangatlah penting mengingat perkembangan perekonomian dunia saat ini sudah mengarah pada ekonomi yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Poernomo juga memaparkan, China dan Jepang, dengan penguasaan teknologi yang mumpuni dan implementasi teknologi yang tepat, telah membawa keduanya menjadi negara terdepan di Asia. Walau begitu, investasi asing dalam jumlah memukau masih lebih banyak terjadi justru di China, bukan Indonesia.

Sedangkan Indonesia semakin menarik sebagai pasar bagi berbagai produsen dan pebisnis di seluruh dunia pada masa mendatang karena jumlah penduduknya diperkirakan bakal lebih dari 300 juta orang pada 2050.(ant/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Minggu, 14 Agustus 2022
26o
Kurs