Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur pasang sebanyak 64 ekstensometer atau alat pendeteksi bencana longsor. Pemasangan alat pendeteksi longsor dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau basah yang masih terjadi serta jelang masuknya musim penghujan.
“Kita harus mengantisipasi sedini mungkin jangan sampai bencana Longsor seperti di Garut tidak terjadi di Jawa Timur,” kata Sudharmawan, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Rabu (21/9/2016).
Menurut Sudharmawan, ekstensometer merupakan perangkat elektronika yang berfungsi mengukur parameter pergeseran tanah. Sensor ini menggunakan potensiometer multiturn sebagai komponen utama disertai dengan rangkaian penguat dan pengkondisi sinyal.
“Alat ini diciptakan dalam negeri oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),” kata Sudharmawan.
Sistem kerja dari ekstensometer ini, jelas Sudarmawan, akan mendeteksi pergerakan tanah, curah hujan dan sudut kemiringan permukaan tanah. Jika tiga indikator ditangkap ekstensometer, maka otomatis membunyikan alarm dengan sirine yang telah dipasang.
“Dengan adanya alat ini lebih memberikan rasa aman pada masyarakat. Sebab sebelum longsor terjadi, masyarakat sudah bisa mengantisipasinya,” ujarnya.
Ke-64 ekstensometer ini, akan dipasang di 22 kabupaten/kota diantaranya Kabupaten Nganjuk, Pacitan, lantas Bondowoso, Kabupaten Kediri, Lumajang, Ponorogo, Kabupaten pasuruan, Kabupaten Tulungagung, serta Kota Batu. (fik/rst)
NOW ON AIR SSFM 100
