Selasa, 7 Desember 2021

Pertanyaan 900 Ribu Dolar di Balik Nobel Perdamaian Bob Dylan

Laporan oleh Tito Adam Primadani
Bagikan
Bob Dylan. Foto : Reuters

Banyak penulis yang mungkin ingin melakukan apa pun demi dibayar nyaris 1 juta dolar dengan memberi ceramah, namun berbeda dengan Bob Dylan yang diam saja sejak mendapat Hadiah Nobel bidang Sastra.

Ikon budaya dan protes era 1960-an di Amerika Serikat ini tidak berkata apa-apa sejak diumumkan sebagai peraih Nobel Sastra 2016. Menurut peraturan Nobel, pemenang harus memberi kuliah sastra atau konser dalam enam bulan untuk mendapatkan hadiah uang sebesar 900 ribu dolar.

Per Wastberg, salah satu anggota Swedish Academy yang memberikan hadiah, menyebut sikap diam Dylan “kasar dan arogan”.

Yayasan Nobel tidak menerima penolakan hadiah, nama Dylan akan tetap berada pada daftar pemenang 2016, apa pun yang dikatakannya. Tapi, uang itu adalah hadiah yang berbeda.

Sebagai persyaratan menerima hadiah uang, Dylan harus memberi kuliah mengenai “relevansi karya yang berkaitan dengan bidang yang menerima hadiah” tidak lebih dari enam bulan setelah 10 Desember yang diperingati sebagai hari kematian penemu dinamit Alfred Nobel.

“Itu yang kami minta sebagai balasan,” kata Jonna Petterson juru bicara Yayasan Nobel.

Kuliah itu tidak harus dilakukan di Stockholm. Saat Doris Lessing novelis Inggris menerima Nobel Sastra pada 2007, dia terlalu sakit untuk bepergian.

Dia menulis ceramah, lalu mengirimnya ke kantor penerbitan di Swedia, yang lalu membacakannya saat upacara penghargaan di ibu kota Swedia itu.

Dilansir Antara, Academy memberi penghargaan kepada seniman berusia 75 itu karena “membuat ekspresi puisi baru dalam tradisi lagu Amerika”.

Lagu-lagu Dylan seperti “Blowin’in the Wind”, “The Times They Are A-Changin”, “Subterranean Homesick Blues” dan “Like a Rolling Stone” menangkap semangat pemberontakan dan antiperang generasi 60-an dan masih menginspirasi generasi setelahnya.

Keputusan Akademi Swedia memilih Dylan menuai kontroversi yang mempertanyakan kelayakan karya sang musisi digolongkan sebagai sastra, sedangkan lainnya menyatakan Akademi kehilangan kesempatan mengangkat seniman lain yang belum terkenal.

Sepanjang penghargaan ini ada, hanya enam orang yang menolak hadiah. Salah satunya eksistensialis Jean-Paul Sartre pada 1964.

Setelah Sartre mengalami masa sulit beberapa tahun kemudian, pengacaranya menyurati Nobel untuk meminta bagian Sartre yang ditolak oleh yayasan ini. (ant/tit/dwi)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Selasa, 7 Desember 2021
26o
Kurs