Rabu, 26 Februari 2020

BNNP Jatim Mendeteksi 54 Jaringan Narkoba

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Brigjen Pol Bambang Budi Santoso Kepala BNNP Jatim saat menunjukkan barang bukti setelah menangkap dua komplotan pengedar narkoba jaringan lapas Porong dan lapas Tanjung Pinang Batam, Jumat (24/8/2018). Foto: Abidin suarasurabaya.net

Hingga saat ini, total sebanyak 54 jaringan narkoba terdeteksi oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim. Salah satu jaringan yang berhasil dibongkar adalah pengedar narkoba di Kota Mojokerto pada Selasa (13/11/2018) setelah menemukan barang bukti 372,87 gram sabu-sabu.

“Sudah dipetakan bahwa di Jatim ini ada 54 jaringan, oleh sebab itu mulai Januari sudah melakukan pengawasan hingga salah satunya kita dapatkan yang tanggal 13 November kemarin di Mojokerto itu termasuk bandar besar yang sudah kita intai satu tahun,” papar Brigjen Pol Bambang Budi Santoso Kepala BNNP Jatim kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (17/11/2018).

Kecurigaan bahwa jaringan ini memiliki nilai transaksi yang besar saat diketahui satu pengedar memiliki sekitar 20 tabungan (ATM) dengan nilai yang fantastis.

Namun Brigjen Pol Bambang tidak menyanggah bahwa jaringan narkoba termasuk kejahatan yang sulit diberantas. Ini dikarenakan jaringan narkoba kebanyakan menggunakan sistem ranjau yang mana selalu muncul jaringan baru meski jaringan lama sudah tertangkap.

“Memang benar penanganan narkotika tidak akan pernah selesai karena mereka sistemnya sistem ranjau, hantam sini lalu muncul delapan jaringan yang mungkin jaringan baru. Seperti yang di Madiun, itu jaringan Riau yang sumbernya sama dari Malaysia,” paparnya.

Untuk itu, BNNP Jatim tidak hanya melakukan penangkapan para pengedar narkoba, tapi juga melemahkan sumber pendanaan dengan menelisik aset yang dimiliki.

Pola Distribusi

Para pengedar saat ini memiliki pola distribusi yang berbeda dibanding sebelumnya. Dalam satu pengiriman, pengedar ini menggunakan jalur distribusi yang berbeda-beda. Serta mereka tidak menggunakan kurir sebelum narkoba sampai ke tempat tujuan karena mempertimbangkan nilai narkoba yang cukup besar jika pengiriman berhasil tercium polisi.

“Mereka itu dari Aceh jalan darat, sampai di Jogja dia terbang (jalur udara, red), kemudian dia turun, terus nyambung sama bus antar kota antar provinsi. Mareka tidak menggunakan kurir setempat sebelum sampai ke tempat tujuan,” jelasnya Brigjen Pol Bambang.

BNNP Jatim terus melakukan pemantauan beberapa jalur terutama jalur udara dengan rute penerbangan baru.

“Seperti Surabaya ini membuka rute (penerbangan, red) baru dari Kuala Lumpur ke Banyuwangi, nah kita juga pelototi itu karena mereka rata-rata dari Banyuwangi langsung menyebrang ke Bali,” jelasnya.

Karena lihainya jaringan narkoba ini dalam melakukan pengiriman dari satu tempat ke tempat lain, BNNP Jatim mengharapkan peran semua lapisan masyarakat untuk berani melaporkan ke pihak berwenang jika mengetahui hal-hal dan gelagat yang mencurigakan.(tin/bid)

Berita Terkait