Rabu, 26 Februari 2020

BNNP Tegaskan Belum Ada Kasus Mabuk Rebusan Pembalut di Jatim

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Foto: thehealthsite.com

Tindakan anak jalanan di Kabupaten Kudus, Jateng, yang mabuk dengan air rebusan pembalut menjadi sorotan BNNP Jatim. BNNP Jatim menegaskan bahwa hingga saat ini, pihaknya belum menemukan kasus serupa terjadi di Jawa Timur.

“Kalau di BNNP itu tidak terdeteksi, sementara rebusan pembalut bikin fly itu yang tidak terbukti. Kemenkes sudah menyatakan kandungan itu tidak membuat fly, tapi mungkin dicampur dengan yang lainnya. Seperti obat nyamuk,tapi mesti diuji lagi,” kata AKBP Ria Damayanti Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jatim kepada Radio Suara Surabaya, Senin (12/11/2018).

Menurutnya, hasil dari penelitian Menteri Kesehatan menunjukkan bahwa tidak ada kandungan di dalam pembalut yang memberikan efek langsung seseorang mabuk. Kemungkinan pelaku mencampur dengan zat-zat lain yang memabukkan.

“Di pembalutnya tidak ada zat-zat demikian, mungkin mereka mencampurnya dengan zat-zat lain yang akhirnya bisa buat nge-fly, karena pembalut ya tetap pembalut,” tegasnya.

Disisi lain, AKBP Ria menceritakan beragam praktek yang dilakukan di masyarakat untuk mendapatkan sensasi terlarang itu.

“Ada juga yang menjadikan kotoran hewan untuk membuat halusinasi. Jamur yang ada di dalam kotoran hewan malah dipakai bahan untuk menciptakan halusinasi, ini di daerah-daerah pucuk (terpencil,red),” tambahnya.

Sayangnya, BNNP Jatim tidak bisa mendata dengan jelas jumlahnya. Apalagi jika itu dilakukan oleh anak-anak jalanan yang kebanyakan nomaden.

Pihaknya saat ini menggiatkan sosialisasi pada komunitas-komunitas yang kebanyakan adalah anak jalanan. Pesan yang disampaikan diantaranya tentang bahayanya pengoplosan minuman keras dengan zat-zat tertentu.

Kata AKBP Ira, orang yang sudah merasakan sendiri sensasi dan campuran zat yang digunakan untuk berhalusinasi, maka akan lebih sulit untuk memberi sosialisasi.

“Karena mereka sudah mencoba dan masuk di tubuhnya, jadi itu agak susah untuk kembali dan merubah perilaku, karena (zat itu, red) sudah merusak otak. Kita sudah bicara juga dengan dokter kejiwaan, jadi kalau dikasih sosialisasi mereka iya iya aja, itu omong kosong” jelasnya.

Untuk itu, selanjutnya BNNP Jatim akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan lembaga di Kementerian terkait seperti Dinsos dan Dinkes untuk melakukan penyuluhan on the spot dan serta merehabilitasi komunitas tersebut.

Sebelumnya, Mufti Djusnir, MSi, Apt, ahli kimia farmasi dari Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan bahwa kandungan chlorine yang ada di dalam pembalut dapat membuat seseorang keracunan yang bisa berujung kematian. Menurutnya, para peminum rebusan pembalut mungkin merasa fly. Padahal yang terjadi mereka mengalami pusing karena keracunan chlorine.(tin/rst)